Rizky Almira. Foto diambil oleh Mas Fauzan dari Sukaria Tour

4 Hal yang Orang Lain Salah Kira tentang Saya

Jurnal
Jangan panggil saya Bu Kades atau Bu Lurah!

“Bu Lurah lagi latihan nih ye..”

“Beh, ada Bu Kades. Sungkem dulu, ah..”

“Siap, Bu Kades!”

“Selamat ya udah jadi Bu Kades.”

“Mohon maaf lahir dan batin, Bu Kades.”

Please, stop it! Lama-lama kok saya jadi risih ya dipanggil seperti itu. Ehe. Nggak hanya itu, beberapa kawan juga mengira saya akan menikah tahun ini. Kayaknya saya perlu menjelaskan sesuatu supaya kamu nggak salah sangka lagi. Saya ingin klarifikasi beberapa hal, nggak cuma dua hal itu. Setengahnya atau bahkan lebih, saya cuma ingin curhat sih.

Kamu nggak wajib baca semua tulisan saya kok. Setelah baca ini nge-tab close juga monggo. Kamu nggak akan dosa. 🙂

Saya tuh bukan Kepala Desa!

Serius, saya mulai risih dipanggil Bu Kades atau Bu Lurah. Alasannya ialah hal itu memang tak sesuai dengan kenyataan.

“Lhoh, panggilan kan doa? Siapa tahu kan jadi Lurah atau Kepala Desa periode selanjutnya?”

Enggak. Makasih banyak. Saya nggak ingin jadi Kepala Desa, saya inginnya minimal jadi ASN yang ditugaskan di kantor kecamatan. Wqwq.

“Emang sejak kapan dipanggil Bu Lurah atau Bu Kades?”

Nggak ngerti ya sejak kapan, pokoknya bermula dari salah satu teman unggah stories di akun Instagramnya. Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelangaYaelah, gara-gara dia manggil saya Bu Kades terus pengikut akunnya yang mengenal saya pun ikut-ikutan memanggil seperti itu.

Salah saya juga sih, saya menikmati gosip itu tanpa ada upaya untuk klarifikasi. Saya pikir hanya gurauan belaka, jadi paling ya nggak dibawa serius. Eh, malah respons teman-teman justru sebaliknya. Hingga saat ini sebagian besar teman-teman memanggil saya Bu Lurah atau Bu Kades. Mungkin sebagian juga mengira itu bukan sekadar candaan.

Jadi, pekerjaan formal saya saat ini adalah Kepala Seksi Pemerintahan Desa Sumberagung, Kecamatan Gandusari. Kalau digambarkan dengan struktur organisasi, posisi saya di bawah pas Kepala Desa. Kayak gini nih…

 

Struktur Organisasi Pemerintah Desa. Sumber ilustrasi dari Danadesa.id
Struktur Organisasi Pemerintah Desa. Sumber ilustrasi dari Danadesa.id

 

K. PEM adalah singkatan dari Kepala Seksi (Kasi) Pemerintahan. Bersama Kasi Pelayanan dan Kasi Kesejahteraan Sosial berada di bawah naungan Kepala Desa langsung. Sementara Kaur Umum, Kaur Keuangan, dan Kaur Perencanaan ada di bawah naungan Sekretaris Desa (Carik). Nah, para Kadus atau Kasun (Kepala Dusun) adalah asisten Kepala Desa untuk tiap dusun yang ada di desa. Sampai sini paham?

Bekerja di pemerintah desa, apalagi di desa sendiri bukanlah impian saya. Nggak ada bayangan sama sekali buat jadi pamong. Tapi ya gimana lagi, mungkin ini sudah jalan saya untuk pulang ke Desa dan mengabdi untuk kampung halaman.

 

Saya belum ada rencana menikah dalam waktu dekat

Nggak sedikit teman-teman yang mengira bahwa saya akan melangsungkan pernikahan tahun ini. Duh, boro-boro menikah, nemu yang klik saja belum kok. Saya memang sempat dekat dengan satu-dua laki-laki, tapi bukan berarti ada rencana menikah dalam waktu dekat.

Apalagi menikah kan tak hanya menikahkan dua orang, seorang laki-laki dan perempuan. Tapi ada dua keluarga besar di belakang masing-masing mempelai yang ikut menikah. Saya memang sempat sih tanya iseng pada seorang teman yang profesinya fotografer, niatnya survei tarif wedding-photography doang.

Ya siapa sih yang nggak pengin menikah terus ngundang fotografer untuk mengabadikan momen sakral yang tak bisa diulang? Eh, nggak taunya mereka menangkap maksud saya lain. Prasangka orang memang tidak bisa dikendalikan.

Saya juga sih suka mancing netijen budiman untuk berpikiran yang tidak-tidak. Ehe. Saya suka iseng unggah stories yang nanggung alias setengah-setengah. Misalnya kayak unggah lagi di KUA, padahal kenyataannya saya tuh sedang antar undangan dari kantor saya. Lalu pernah posting tenda untuk hajatan itu di depan rumah, padahal bukan tenda biru lho. Wqwq. Ini yang mikir lama tenda biru apaan pasti anak generasi 2000an. Lanjut ya? Gara-gara posting kek gitu, eh, banyak yang ngira saya mau dilamar.

Di balik gosip hangat itu, ada teman yang memang ikut memancing keributan dengan mengunggah ulang postingan saya sambil mengucapkan selamat. Padahal ya ada tenda hajatan itu karena keesokan harinya ada lomba desa dan rumah saya dipilih sebagai pos posyandu untuk dipamerkan ke dewan juri yang terhormat. Hahahaha.

Pokoknya doain saya segera dipertemukan dengan jodoh ya! Selain saya klik dengan doski, masing-masing keluarga kami juga merestui. Amin.

 

Eh, mohon diingat saya tuh bukan cenayang!

“Kamu kan blogger! Pasti tau banyak.”

“Kamu kan suka nulis, bikinin caption buat fotoku dong!”

Tau banyak, ndiasmu! Eh, saya ini manusia biasa juga kek kamu. Meskipun saya memang suka menulis di platform blog kayak gini tapi bukan berarti saya tau segala yang kamu ingin tau. Huft, capek deh. Bukan berarti kalau saya hobi menulis, terus dengan gampangnya nyuruh buat bikin caption fotomu yang bokeh itu.

Jujur, saya rada kesal kalau menemui orang yang memperlakukan demikian. Bagi saya, menulis deskripsi sebuah foto minimal saya harus ikut terlibat di lokasi atau tau latar cerita tentang fotonya. Nggak asal menulis. Situ nyuruh-nyuruh saya nulis tapi nggak mau bayar fee alias gretongan gitu. Duh.

Ya mon map nih ya, bukannya sombong atau apa, tapi saya atau kamu juga berhak untuk berkata tidak. Ya nggak?Nggak semua kemauan orang harus saya iya-kan. Betul tidak? Kalau sekadar ingin tau sih, bisa mengandalkan mesin telusur seperti Google. Jangan malas!

 

Awas tertipu! Hidup saya tak selalu terlihat seperti yang kamu lihat.

“Hidup kamu kok enak banget sih, Mbak Kiki!”

“Enak ya kamu, Mbak! Sering banget menyenangkan diri sendiri.”

“Mbak Kiki nih enak banget sih, jalan-jalan terus, kulineran terus!”

Halah, kata siapa sih? Hati-hati, unggahan di stories dan feeds adalah jebakan untuk membuatmu membanding-bandingkan kehidupan yang fana ini baik secara langsung maupun enggak. Media sosial cenderung bikin jiwa kompetitif penggunanya hidup. Jadi cenderung bikin orang nggak mau kalah dari yang lain.

Lagian orang-orang tau kehidupan saya cuma dari media sosial. Coba sini main ke rumah saya, biar tau real life-nya kayak apa. Hahaha. Saya memang mengunggah yang menyenangkan saja. Kala sedih tentu jarang saya unggah. Ya ngapain? Saya memang suka jalan-jalan, tapi nggak sesering kamu atau dia. Saya memang suka kulineran, itu pun karena tuntutan pekerjaan dan dibayar. cie… 

Pokoknya inti dari poin ini adalah Sawang Sinawang. Hidup saya nggak selalu menyenangkan kok. Kamu kan nggak tahu dapur saya kek gimana. Kamu hanya tau halaman atau paling mentok teras rumah saya. Iya kan? Sebagian besar orang terlalu sibuk fokus pada hasil bukan proses.

Hidup saya sama kok seperti hidup kamu. Cuma ya ceritanya berbeda. Semua keadaan tetap ada sisi negatif dan positif. Jadi nikmati dan syukuri saja.

 

Udah ah, segitu dulu curhat saya. Terima kasih banyak yang bela-belain membaca tulisan saya ini hingga selesai. Apalagi sampai meninggalkan komentar dan likes. Wah, saya doakan semoga kebaikanmu itu dibalas oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Amin. 🙂

4 thoughts on “4 Hal yang Orang Lain Salah Kira tentang Saya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *