Menonton Film Bumi Manusia. Dokumen pribadi Rizky Almira

5 Pesan yang Bisa Dipetik dari Film Bumi Manusia

Film Jurnal
Dari kacamata seseorang yang belum pernah membaca bukunya

Hari ini mood saya hancur. Ambyar. Saya berniat untuk ngumpulin berkas ke basecamp Grab. Ehe. Tanpa sepengetahuan orang rumah, saya ingin daftar jadi driver untuk Grab Car. Sayangnya belum rejeki, kelengkapan berkas ada yang kurang dan saya nggak bisa memenuhinya.

Ya udah, nggak apa-apa. Bisa coba lagi pada kesempatan berikutnya. Saya pun cari pelarian untuk meredakan kekecewaan. Salah satunya dengan menonton film di bioskop. Mumpung hari Sabtu, saya pergi ke CGV. Lumayan lho tiap Sabtu ada promo diskon 50% untuk pemegang kartu debit BCA Tapres.

Saya menonton Bumi Manusia. Penasaran saja dengan film ini dan ceritanya diangkat dari salah satu buku Kakek Pramoedya Ananta Toer. Sebelum menonton, kamu harus tau bahwa durasi filmnya panjang, sekitar 3 jam. Sama dengan durasi film Avengers: Endgame. Film ini berhasil bikin saya menahan…….. pipis. wqwq

Ada  5 pesan yang bisa saya tangkap dari Bumi Manusia, film yang disutradai Hanung Bramantyo. Sebelum lanjut baca, saya mau ingatkan bahwa konten ini berisi bocoran (spoiler) cerita film. Monggo kalau tetap ingin baca atau sebaliknya.

Oke, saya lanjut ya..

Tetap ada orang-orang baik yang datang untuk menolong

Nggak peduli si penolong dari kalangan mana, Tuhan mengirim bantuan dengan meminjam tangan-tangan manusia. Pertolongan datang tak dinyana. Minke (pemeran utama dalam Bumi Manusia yang diperankan oleh Iqbaal Ramadhan) dikeluarkan dari H.B.S. oleh Direktur Sekolah karena dikhawatirkan memberi contoh yang buruk bagi siswa-siswi lainnya.

Sedih ya. Padahal Minke adalah siswa yang brilian dan baru saja berhasil dalam menyelesaikan perkara dari kasus Nyai Ontosoroh yang dituduh pembunuh suaminya sendiri, Herman Mellema. Gara-gara nama Minke ikut terseret dalam kasus itu, bapaknya Minke yang notabene Bupati Karisidenan Bojonegoro malu dan geram lalu mengirim surat pada Direktur Sekolah untuk mengeluarkan Minke dari H.B.S.

Namun suatu hari, guru Minke mendatangi kediaman Nyai Ontosoroh untuk mengantar surat sekaligus ngasih tau pihak sekolahnya membutuhkan Minke dan tidak jadi dikeluarkan dari H.B.S. karena protes dari alumni dan netijen kala itu kali yak. Rejeki dari Tuhan emang banyak banget bentuknya.

Berani jatuh cinta, harus berani pula menghadapi resikonya

“Cinta itu indah, Minke, juga kebinasaan yang mungkin membututinya. Orang harus berani menghadapi akibatnya.”
― Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Di film, Minke punya sahabat bernama Jean Marais, orang Eropa asli. Dia ngasih tau Minke bahwa ketika mencintai seseorang berarti harus siap menghadapi segala sesuatunya. Nasihat itu cukup memberi pencerahan pada Minke yang sedang galau, antara melanjutkan kisah cintanya dengan Annelis atau sebaliknya.

Tekad yang bulat menyelimuti Minke untuk melamar Annelis dan berjuang bersama menghadapi badai yang datang silih berganti. Haduh, Minke ini memang bandel kok. Nggemesin!

Meski jadi manusia modern, tetap jangan lupa dengan kebudayaan sendiri

Manusia memang dituntut untuk bisa menyesuaikan dengan segala perubahan yang ada. Tapi kebudayaan sendiri jangan sampai tergantikan atau hilang karena itu adalah jati diri atau identitas sebuah bangsa. Saya terenyuh sih waktu Ibu Minke menasihati anak lelakinya yang akan menikah dengan Annelis.

Kalau saya nggak salah dengar, Ibunya Minke bilang bahwa meski Minke menjadi manusia modern tapi harus tetap fasih dengan budaya sendiri. Pokoknya intinya begitu. Ehe. Pesan ini masih relevan dengan kehidupan masa kini, era globalisasi. Jangan sampai hanyut begitu saja dan melupakan budaya sendiri.

Hidup adalah tentang memilih

“Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya”
― Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Minke berlutut di hadapan ibunya dan meminta maaf. Ia pun mengungkapkan hasratnya dari lubuk hati terdalam pada ibunya bahwa memiliki jabatan seperti bapaknya bukanlah tujuan dari hidupnya. Dasar, keras kepala. Tapi justru itu yang membuat sosok Minke semakin menarik.

Idealnya, hidup memang begitu sih. Kita berhak memutuskan untuk mau jadi apa di masa depan kelak. Seperti Minke yang ingin hidupnya tak suka diperintah, maupun memerintah orang lain. Ia ingin jadi seseorang yang bebas. In real life, saya belum berani seperti Minke. Saya suka gamang dan naif, mudah tergiring oleh pendapat orang lain.

Lawan! Jangan biarkan dirimu terinjak-injak

Minke nggak segan untuk berontak bila ada sesuatu yang kurang beres. Film ini menceritakan banyak diskriminasi yang didapat oleh inlander atau pribumi, Minke salah satunya. Ia melawan semua ketidakadilan dengan kepiawaiannya dalam menulis. Seperti namanya, Raden Mas Tirto Adhie, Tirto berarti air yang bisa bermakna menjernihkan. Pas banget dengan karakternya yang suka banget menulis sastra hingga berita dengan kritis dalam sebuah surat kabar.

“Pendapat umum perlu dan harus diindahkan, dihormati, kalau benar. Kalau salah, mengapa dihormati dan diindahkan? Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu.”
― Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Salah satu prestasinya dalam cerita film adalah berhasil memenangkan perkara Nyai Ontosoroh yang sempat dituduh sebagai pembunuh. Senjata Minke bukanlah pistol atau pedang. Pena adalah senjata Minke untuk melawan perlakuan tak adil karena berbedaan kasta. Pesan yang bisa dipetik, kita harus berani utarakan sesuatu bila ada yang kurang sesuai. Jangan mau jadi yes-man. Capek.

 

Sementara itu dulu sih 5 pesan yang bisa dipetik dari film Bumi Manusia. Jika ingin menambahkan, boleh lho tuliskan di kolom komentar. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *