Mengamputasi gengsi

Mengamputasi Gengsi

Jurnal Self-Healing
Duh, jadi malu dengan kelakuan diri sendiri

“Dasar gengsian!!”

Saya kangen dengan seseorang, tapi saya gengsi untuk menyapa duluan. Gara-garanya saya sebal dengan orang tersebut dan hubungan kami sedang nggak baik-baik saja. Chat aja segan, apalagi meminta maaf untuk baikan. Meski seringnya saya yang salah, rasanya meminta maaf duluan kok berat ya.

Ujung-ujungnya cuma bisa kepo untuk tau kabarnya. Menerka-nerka apa saja kesibukannya, apa saja yang sedang ia pikirkan lewat kicauan di akun media sosialnya. Bila kangennya telah mencapai stadium akut dan nggak bisa menahan hasrat ingin segera baikan, baru deh saya menyerah.

Saya akan mengorbankan gengsi untuk menyapa. Melipat jarak yang saya bentangkan sendiri. Kemudian memberanikan diri untuk meminta maaf. Nggak cuma perkara maaf-memaafkan. Soal pujian pun pelit.

Iya, saya gengsi untuk bilang “Wah, hari ini kamu nampak luar biasa” atau “Kamu tampak cocok pakai baju ini” atau “rambutmu sedang bagus, kami jadi terlihat berbeda”. Rasanya nggak ikhlas saja kalau orang lain melihat saya terpesona. Ujung-ujungnya, saya cuma bisa mengagumi dalam hati.

Padahal itu adalah apresiasi atas upaya orang lain selain bilang “terima kasih”. Saya sadar kok kalau anaknya gengsian. Makin kesini, saya ngrasa sifat ini nggak sehat. Saya nggak mau gara-gara mempertahankan gengsi lalu menyesal di kemudian hari. Menyesal kan selalu datang terlambat.

Saya khawatir, gengsi justru bikin rentetan cerita kehilangan semakin banyak dalam hidup saya.

Suatu hari, ada sebuah pertanyaan diri sendiri yang cukup menohok. Jangan-jangan karena gengsi saya cenderung jadi egois. Mementingkan diri sendiri. Sibuk untuk urusan dirinya sendiri. Padahal di semesta ini, bukan saya doang penghuninya.

Secara nggak langsung, memelihara gengsi ini membuat saya menuntut perlakuan khusus dari orang lain. Tentu perlakuan yang sesuai dengan karep atau ingin saya. Padahal dia hidup di dunia nggak cuma untuk meladeni saya lho. Egois ya.

Bersyukur banget, dia masih mau menerima ‘kepulangan’ saya. Menyambut dengan tanpa dendam dan memaklumi saya yang gampang ngambek padanya.

Sejujurnya saya malu untuk menulis ini, tapi ini adalah proses penerimaan diri secara utuh. Menerima segala yang ada di diri, termasuk segala kekurangan yang saya punya. Namun saya nggak ingin diam saja, gengsi harus diamputasi. 🙂

4 thoughts on “Mengamputasi Gengsi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *