Pesan Singkat dari Tukang Fotokopi Langganan

Jurnal
Tiba-tiba mas-mas tukang fotokopi bilang sesuatu yang menohok

“Mau cari apa, Mbak?” tanya perempuan berhijab dan berseragam di balik etalase.

“Ada bolpoin jel? Cari warna biru.”

“Oh, yang itu mbak!” tunjuk saya.

“Ada lagi?”

“Sama fotokopi 75 lembar, masih difotokopi sih tapi nggak apa-apa kalau ditulis notanya duluan.” pinta saya.

Seorang lelaki, kira-kira tingginya sama dengan saya, tertangkap mata sedang memperhatikan saya. Ia adalah salah satu karyawan yang bekerja di toko alat tulis tersebut, bisa dibilang senior. Selain mengawasi karyawan, dia juga mengecek ketersediaan jumlah barang di toko, pekerjaan tambahannya ialah fotokopi.

“Orang mana to, Mbak? Sekolah atau kantor desa?” tanyanya.

“Kantor desa, Mas”

“Ngendi (mana)?”

“Sumberagung..”

“Adoh men to lek blonjo, teko kene barang. (jauh banget sih belanja alat tulisnya, bisa sampai sini)”

“Nggak boleh ta aku belanja ndek sini, mas?”

“Ya boleh… Lemes men to? Urung mangan ye? (Lemas banget to, belum makan ya)? Opo pembawaane emang koyok ngono (apa memang kamu pembawaannya begitu)”

“Uwes kok mas, sek tas kelar mangan malah (Udah kok mas, baru aja selesai makan malah)”

“Sampean wes rabi ye mbak (kamu udah menikah, mbak)?”

“Urung. Nyapo, Mas (Belum. Kenapa, Mas)?”

“Yo ora opo-opo sih (Ya nggak kenapa-napa, sih)”

“Sampean neng deso dadi opo gek ngurusi opo? undangan ngono kuwi ye? (kamu di Pemerintah Desa jadi apa dan ngurusin apa? Undangan juga kah?)”

“Kasi Pemerintahan, yo akeh sing tak urus mulai teko alat tulis kantor, pajak bumi dan bangunan,gajine wong-wong wes pokok e akeh. (ya lumayan banyak yang saya urus mulai dari belanja alat tulis kantor, pajak bumi dan bangunan, gajinya orang-orang, pokoknya lumayan banyak deh) “

“Beh, angel yo dadi pamong saiki. Biyen seleksi nggak? Wes suwe ye dadi pamong? (Beh, susah ya jadi perangkat desa sekarang. Dulu ikut seleksi nggak? Udah lama jadi perangkat desa?)”

“Iyo enek seleksine, mulai teko ujian tulis, terus enek wawancara. Hasile dirangking. (Iya, ada seleksinya, mulai dari ujian tulis, terus ada wawancara. Hasilnya nanti dirangking) “

“Sek to, pamong ki saiki opo mung oleh bengkok? (Bentar to, perangkat desa sekarang cuma dapat jatah tanah kas desa?”

“Ora, oleh penghasilan tetap per bulan yo koyok gaji ngono karo bengkok. (Enggak, dapat penghasilan tetap per bulan ya kayak gaji gitu ditambah tanah kas desa)”

“Beh, penak yo. Saiki ki penggawean opo ae dilakoni dan dinikmati wae, mbak. Kabeh penggawean ki tetep enek ra penak e. Masio wong-wong ndelok aku ki koyok ora ngopo-ngopo, tapi kan panggah ora iso ndelok njerone piye. (Wah, enak ya. Sekarang tuh pekerjaan apa aja dijalani dan dinikmatin aja, Mbak. Semua pekerjaan itu tetap ada nggak enaknya. Meski orang lain melihat aku seperti nggak kerja, kerjaannya guyon terus, tapi kan orang lain tetap nggak bisa melihat dalamnya gimana, kenyataannya gimana.”

“Iyo, mas. Bener.. (Iya, mas. Benar) “

“Poh, bahasaku tingkat duwur yo.. (Poh, bahasaku tingkat tinggi ya) ” ucapnya sambil melenggang meninggalkan saya.

Saya pergi dan menyapanya barang sebentar sebelum bergegas pergi. Entah, apapun yang mas-mas fotokopi itu sampaikan serasa segelas air di siang bolong yang panas. Batu yang membebani kepala saya dan menyebabkan pening beberapa hari ini terasa lebih ringan.

1 thought on “Pesan Singkat dari Tukang Fotokopi Langganan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *