Terapi fisioterapis di Blitar. Dokumen pribadi Rizky Almira

Rekomendasi Praktik Fisioterapi di Blitar

Jurnal Ulasan
Tempat terapi untuk hati fisik yang cedera

Asyik mengayun gayung saat mandi, eh, nggak taunya berasa ada yang geser di siku. Entah keseleo atau sendinya geser. Saya nggak terlalu mengacuhkan sakitnya dan masih beraktivitas seperti biasa. Masih sanggup untuk tetap latihan Muay Thai dan digembleng dengan latihan fisik oleh coach Dimas. Lhakok hampir sebulan ini, rasa nyeri tak kunjung pergi.

Nggak terlalu sakit sih, hanya saya mulai enggak nyaman dengan rasa nyerinya. Siku terasa nyeri saat saya menggerakan tangan untuk menekan sesuatu. Saya pun berinisiatif untuk mencari praktik fisioterapis yang ada di Blitar. Kenapa nggak ke rumah sakit? Alasannya saya malas untuk registrasi ini itu lalu antri. Saya sedang malas dengan prosedurnya yang cukup panjang. Ehe. Akhirnya, saya menemukan praktik fisioterapis yang lokasinya ada di pusat Kota Blitar.

Saya menemukan tempat praktik fisioterapis, Ftr. Irwan Syahputra, S.St.Physio, di belakang apotek Dr. Ismangil, Jl. Merdeka No. 4 Blitar. Perhatikan jam operasionalnya bila ingin kesana, supaya nggak kecele kayak saya.

Praktik Pak Irwan ini buka tiap Senin sampai Jumat, mulai pukul 16.00 – 19.00 WIB. Pada hari Sabtu, praktik buka mulai pukul 09.00 – 12.00 WIB. Khusus hari Minggu dan hari besar, tutup ya. Beliau punya dua orang asisten, keduanya perempuan. Pas pertama kali kesini, mereka menyambut saya dengan hangat. Pak Irwan langsung mendata saya untuk pembuatan kartu berobat sambil menanyakan keluhan saya.

“Oh, mbaknya Golfer’s Elbow tuh!” kata Pak Irwan pada dua orang asistennya.

Ruangan praktik Pak Irwan nggak terlalu luas, di samping mejanya berjajar empat ranjang yang hanya dibatasi tirai. Semua ranjang dipenuhi oleh pasiennya yang rata-rata memang bermasalah dengan tulang dan sendi (ya iya lah, namanya juga tempat praktik fisioterapis!). Saya antri sepuluh menit hingga akhirnya ditangani oleh asistennya.

Sekitar siku saya dibaluri gel bening, lalu mbaknya mengambil sebuah alat yang sekilas mirip dengan hair dryer tapi ujungnya lonjong dan terdapat sinar biru. Kemudian alat tersebut digesek-gesekkan pada permukaan kulit sekitar siku dengan durasi kurang lebih 8 menit. Andhira, salah satu teman saya yang memang dulu kuliah ambil jurusan fisioterapi, dengan telaten menjelaskan nama alatnya adalah USD ketika merespons story Whatsapp saya. Ketika ujung alat mengenai bagian yang nyeri, rasanya langsung mak sengkring.

 

Terapi fisioterapis di Blitar. Dokumen pribadi Rizky Almira
Lengan saya disetrum. Dokumen pribadi Rizky Almira

 

Setelah kelar di-USD, siku saya disetrum. Kata Andhira, namanya adalah TENS. Wqwq. Siku saya disetrum sekitar 8 menit dengan ketegangan listrik yang disesuaikan ketahanan tubuh saya. Setelah kedua terapi tersebut kelar, lengan saya ditempeli semacam koyo dengan warna ngejreng dan saya baru tau kalau itu namanya elbow taping.

 

Terapi fisioterapis di Blitar. Dokumen pribadi Rizky Almira
Ini lho plesternya. Dokumen pribadi Rizky Almira

 

“Nempelin taping nggak bisa sembarangan orang, harus fisioterapis yang nempelin soalnya ada arahnya.” jelas mbaknya.

Oh, gitu to. Hahaha. Pak Irwan langsung menganjurkan saya untuk istirahat sejenak dari aktivitas berat, seperti latihan Muay Thai. Duh, sedih.

“Kamu yakin mau istirahat Muay Thai?” tanya Bawor.

“Ya nggak lah, aku akan tetap latihan.” jawab saya yakin.

Untuk sekali terapi ini, biayanya sejumlah 80ribu IDR. Bagi saya nggak mahal-mahal amat, mengingat pernah terapi fisik di Klinik FIK UNY sana. Nggak pakai alat-alat canggih kayak di tempat Pak Irwan, kaki saya cukup dipijat oleh terapisnya. Saat itu lutut saya cedera karena sendi yang geser dan merasakan nyeri hampir sebulan. Biaya terapi di sana sekitar 75ribu IDR untuk kasus lutut saya.

“Hari Sabtu besok terapi lagi kesini ya, biar cepat sembuh!” pesan dari Pak Irwan sebelum saya cabut.

Baik, rupanya beliau nggak main-main dengan cedera saya ya. Begitu tiba di rumah, saya pun mencari tau apa sih Golfer’s Elbow itu? Soalnya pada nanyain kenapa tangan saya dikasih sticker segala? Saya kan jadi bingung jelasin. Saya pun menemukan situs www.gleneagles.com.sg dan mengutip penjelasannya mengenai cedera tersebut.

Golfer’s Elbow adalah rasa nyeri di bagian dalam siku yang disebabkan oleh peradangan salah satu tendon yang menghubungkan otot lengan depan ke siku. Rasa nyeri yang terletak pada benjolan yang bertulang pada aspek bagian dalam siku, di mana tendon flexor lengan bagian depan yang melekat ke bagian siku yang disebut Medial Epicondyle. Untuk alasan inilah, maka Golfer’s Elbow juga dikenal sebagai ‘Medial Epicondylitis’.”

Oh, jadi itu yang namanya golfer’s elbow.

“Rasa nyeri dapat disebabkan oleh aktivitas berikut ini:

  • Membengkokkan pergelangan tangan
  • Meremas bola
  • Mengayunkan tongkat golf
  • Mengayunkan raket ke depan
  • Memutar kenop pintu
  • Pelatihan angkat beban

Golfer’s elbow dapat terjadi pada siapa saja yang menggunakan pergelangan tangan atau jari-jari secara berulang-ulang, dan aktivitas yang dapat menyebabkan itu, termasuk menggali, berkebun dan memalu paku.

Gejala utama Golfer’s Elbow yaitu kelunakan dan rasa nyeri di bagian dalam siku. Gejala lainnya mencakup:

  • Kekuatan berkurang daripada biasanya ketika menggenggam benda atau mengepalkan tangan Anda
  • Rasa nyeri menyebar ke bawah lengan — Membengkokkan pergelangan tangan, memutar lengan depan ke bawah, atau menggenggam benda dapat memperburuk rasa nyeri
  • Rasa nyeri yang semakin memburuk ketika mengangkat benda berat dengan telapak tangan Anda.”

 

Eh, kok benar semua. Kira-kira begitu lah yang saya rasakan. Saya pun hari ini mengikuti anjuran Pak Irwan untuk terapi kedua kalinya. Terapi kedua agak berbeda dengan kemarin. Bedanya, bagian siku nggak dilumuri gel lagi. Saya disuruh untuk rebahan, lalu asisten Pak Irwan mendekatkan alat semacam laser gitu ke atas bagian siku saya yang sakit.

“Kalau kepanasan bilang ya, Mbak.” ujarnya.

 

Terapi fisioterapis di Blitar. Dokumen pribadi Rizky Almira
Dilaser, cuy!. Dokumen pribadi Rizky Almira

 

Tangan saya dipanasin pakai laser sekitar 8-9 menit. Kata Ndhira lagi, proses ini namanya IR. Kemudian terapi berikutnya adalah TENS. Baru deh setelah semua terapi kelar, area siku kembali diplester. Saya diwanti-wanti si mbak buat istirahat dulu dari Muay Thai hingga benar-benar sembuh karena sedang peradangan di bagian siku dan ini nggak boleh disepelekan. Awalnya sih saya rada nggak percaya dan mau ngeyel buat tetap latihan Muay Thai. Lhakok Andhira juga bilang seperti mbaknya. Apalah daya, saya jadi berpikir ulang. Pilih tetap latihan tapi celaka kemudian atau rehat dulu demi kesehatan.

Biaya terapi kedua kalinya masih sama. Saya suka dengan pelayanan Pak Irwan dan kedua asisten, cara mereka memperlakukan pasien seperti seorang teman lama. Malah saya lihat langsung kejadian yang jarang banget saya temui. Ceritanya ada seorang pasien yang sedang terapi dan tidak membawa uang banyak, eh, Pak Irwan mengizikan pasien membayar biaya terapi dan pembelian alat dengan mencicil. Ya ampun!

Jadi saya nggak heran kalau pasien Pak Irwan ini loyal, buktinya ada salah satu pasien yang cerita kalau anak-cucu juga terapi ke Pak Irwan saat merasa ada yang nggak beres dengan tulang dan sendinya. Tempat praktik fisioterapis di Blitar ini memang layak untuk direkomendasikan!

2 thoughts on “Rekomendasi Praktik Fisioterapi di Blitar”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *