Mempersiapkan Baju Lebaran

#30HariKebaikanBPN Jurnal
Perlu beli yang baru atau nggak?

Ibu adalah orang pertama yang rajin bertanya “sudah punya baju lebaran belum?” atau “kapan mau beli baju lebaran?”

Baju lebaran dengan memakai pakaian baru sepertinya sudah membudaya di masyarakat kita ya. Buktinya, tiap kali mau lebaran toko baju atau pusat perbelanjaan dipadati pengunjung.

Bukan hanya itu, toko online menebarkan diskon pada sosial media. Seperti nelayan yang menebar jala. Rawan kalap!

Menurut saya, baju lebaran itu nggak harus baru. Selama baju lama ada yang masih layak dipakai, ya sah-sah aja. Jadi nggak perlu beli.

Berikut ini item baju lebaran saya..

Mukena untuk salat hari raya

Ini penting untuk dipersiapkan dan menurut saya termasuk baju lebaran sih. Ehe. Mukena kan dipakai untuk salat.

Persiapkan mukena terbaik yang bersih agar dapat mendukung ibadah kita semaksimal mungkin. Kalau mukena bersih dan wangi, saya pasti akan semangat memakainya.

Baju gamis lengkap dengan hijabnya

Pada hari pertama lebaran, biasanya saya sekeluarga menggunakan baju yang dipakai saat salat hari raya. Baju yang saya pakai seringnya gamis, baju terusan.

Namun jika malas memakai gamis, saya pakai baju model lain dan yang penting saya tetap nyaman.

Atasan panjang, bawahan panjang juga dong

Saya masih nyaman memakai celana karena praktis aja kalau dipakai gerak kemana-mana. Jadi saya pilih memakai bawahan celana dan atasan lengan panjang.

Jangan lupa bahwa pakaian ini tetap saya padukan dengan hijab. Ehe.

Baju santai yang sopan untuk digunakan selama di rumah

Selama hari raya, rumah open house terus hingga lebaran terakhir. Biasanya tamu berdatangan silih berganti.

Ya kadang sepi juga sih. Ehe. Paling hanya ada saya doang di ruang tamu incip semua jajan. Berjaga-jaga aja ada teman yang datang, jadi saya bersiap pakai baju santai yang sopan dengan hijab.

 

Bedanya lebaran dulu kala saat masa kecil dengan seakrang tuh, kalau dulu baju lebaran ada beberapa pasang. Ibu bapak membelikan saya, untuk dipakai pada hari lebaran pertama, kedua, dan seterusnya.

Sekarang, saya cukup mengenakan baju yang ad sebelumnya. Baju lebaran baru bukanlah sebuah keharusan.

Esensi lebaran itu bukan pada baju lebaran yang baru dan mentereng, di tambah dengan memamerkan soal kemapanan. Lebaran itu adalah tentang hati yang kembali fitri.

Eciyee… Duh, ngomong apa sih saya ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *