Pagi hari di Pantai Pasur. Dokumen pribadi Rizky Almira

Bermalam di Pantai Pasur Blitar, Nonton Film bareng Geber

Cerita Jurnal Perjalanan
Merayakan Sabtu malam dengan nggak biasa.

Seringnya Sabtu malam saya berdiam diri di rumah atau di kos. Malas dengan situasi jalan yang macet. Saya lebih suka nyantai di kamar atau di ruang tengah. Namun kali ini Sabtu malam saya berbeda.

Bapak dan Ibu adalah tipe orang tua protektif. Meski usia saya sudah 25 tahun lebih, namun jam main masih dibatasi maksimal jam 9 malam. Menginap di rumah teman saja harus disertai dengan alasan yang cukup kuat. Apalagi ingin bermalam di ruang terbuka, semacam camping di pantai atau di gunung?

Pada Sabtu awal bulan ini, saya ada keraguan untuk berangkat. Ada rasa takut untuk pamit ketika hendak berangkat.

“Bu, aku menginap di rumah teman ya, pulangnya besok..” pamit saya dengan nada memelas.

“Menginap di rumah e siapa? Besok yah opo pulange (besok kira-kira jam berapa pulangnya)?” tanya Ibu dengan setengah melotot.

“Sampai besok pagi, Buk.”

“Mau ngapain sih?”

“Emm.. mau nonton film.. hehehe”

“Ya, hati-hati lho.” Ibu mengizinkan dengan mimik muka rada tak ikhlas.

Maaf ya, Bu! Saya terpaksa berbohong kala itu. Huhuhu. Maaf juga untuk pihak yang jadi tameng supaya saya diizinkan pergi. Sepanjang perjalanan tentu nyempil perasaan was-was. Tapi semua itu hilang begitu tiba di pantai.

Pantai Pasur ini terletak di Desa Bululawang, Kecamatan Bakung Kab. Blitar. Kalau enggak salah, lokasi pantainya di ujung barat wilayah Blitar. Rutenya cukup aman kok baik untuk kendaraan roda dua maupun empat. Namun, kondisi jalannya nggak mulus setelah Kantor Desa Bululawang.

Selain sepi dan tidak ada penerangan, jalanan menanjak dan menurun. Ada beberapa titik yang kemiringannya tajam. Namun sepanjang jalan disuguhi pemandangan yang asyik. Kanan kiri adalah kebun tebu. Bila belum memasuki masa panen, bukit-bukit bak berambut lembat dan berwarna hijau. Kadang bergoyang mengikuti arah angin.

 

Perjalanan menuju Pantai Pasur. Dokumen pribadi Rizky Almira
Perjalanan menuju Pantai Pasur. Dokumen pribadi Rizky Almira

Begitu dekat kawasan Pantai Pasur, pemandangan sungai di sela bukit terhampar di sisi kanan jalan. Pas banget ketika perjalanan kesini, matahari akan tenggelam. Sunset cuy! Sayangnya saya keasyikan sendiri jadi lupa nggak motret kayak yang lain.

 

Perjalanan menuju Pantai Pasur. Dokumen pribadi Rizky Almira
Perjalanan menuju Pantai Pasur. Dokumen pribadi Rizky Almira

Hawa malam itu dingin. Seporsi indomi goreng plus telur mata sapi yang saya pesan di warung lumayan mengganjal dan menghangatkan perut. Saya, Ima, Pandu, Sasi, dan Ilham makan dengan lahap usai menunaikan solat magrib. Beruntungnya di daerah tersebut air sangat melimpah.

“Di sini ada sumber mata air, jadi warga ambil dari sana dan nggak bayar.” kata Ibu pemilik warung.

Airnya tawar dan segar. Nggak payau seperti di pantai kebanyakan. Awalnya kami berniat camping di sana, ternyata teman-teman dari Sahabat Menanam menyediakan satu rumah warga untuk kami bermalam. Bila tetap ingin camping ya boleh-boleh saja sih. Cuma saya dan teman-teman nggak ada yang bawa tenda, ditambah dengan angin yang berhembus cukup dingin. Jadi lebih aman untuk tinggal di rumah warga.

Sebenarnya yang punya acara adalah Sahabat Menanam berkolaborasi dengan Geber Film. Sahabat Menanam adalah organisasi nirlaba yang fokus di bidang lingkugan hidup. Nah, mereka akan menanam mangrove bareng Geber Film yang merupakan komunitas anak muda di Blitar yang doyan bikin film.

Sabtu malam diisi dengan pemutaran film dari anak-anak Geber Film. Kami semua membaur dengan semua peserta dan warga sekitar di Balai Paseban Sedekah Laut, Pantai Pasur. Judul film yang kami tonton ada Brigadir (Jogo Wargo) oleh Nawa Rie Eda, Sadar Sampah oleh Dewi Nurlaila, Ojo Turu Sore oleh Ari Prasetya, Brutu oleh Antika Harianti.

Paginya baru deh dilakukan penanaman bersama. Acara ini cukup banyak lho pesertanya, ada relawan dari ITS, UNU Blitar, dll, yang ikut serta ditambah dengan anak-anak IAIN Kediri yang sedang KKN di desa tersebut. Berhubung saya ingat kalau pamit pada Ibu hanya sampai Minggu pagi jadi enggan untuk pulang terlalu siang.

Saya hanya sempat membantu kawan-kawan di dapur untuk menyiapkan sarapan seluruh peserta. Memasak tempe goreng, sayur sop, dan tumis sawi. Sebelumnya saya sempatkan untuk menikmati suasana pagi di Pantai Pasur.

 

Pagi hari di Pantai Pasur. Dokumen pribadi Rizky Almira
Pagi hari di Pantai Pasur. Dokumen pribadi Rizky Almira

Di tepian Pantai Pasur banyak ditanami pohon cemara udang. Menurut informasi dari teman-teman, cemara udang ini ditanam oleh warga sekitar dan teman-teman dari Sahabat Menanam lho. Pohon cemara udang berfungsi untuk benteng penghadang tsunami.

Ini adalah kedua kalinya saya main ke Pantai Pasur. Pertama kali kesini dengan Christ, jelajah pantai pada tahun 2016 kalau enggak salah. Atau 2015 ya, waduh, saya lupa. Saat kesini, tambang pasir besi yang ilegal itu masih beroperasi kemudian ditutup beberapa tahun lalu. Ohiya, Pantai Pasur ini pantainya belum komersil, untuk masuk kesini sama sekali tidak dikenakan biaya.

 

Pantai pasur dalam potret hitam putih. Dokumen pribadi Rizky Almira
Pantai pasur dalam potret hitam putih. Dokumen pribadi Rizky Almira

 

Pantai pasur dalam potret hitam putih. Dokumen pribadi Rizky Almira
Pantai pasur dalam potret hitam putih. Dokumen pribadi Rizky Almira

 

Pantai pasur dalam potret hitam putih. Dokumen pribadi Rizky Almira
Pantai pasur dalam potret hitam putih. Dokumen pribadi Rizky Almira

Jika kamu ingin menepi sejenak dari perkara sehari-hari, tempat ini saya rekomendasikan. Sama sekali tidak ada sinyal telekomunikasi, warga setempat harus pergi ke bukit supaya dapat sinyal. Jadi lumayan banget bisa mendukung detox digital biar kadar anxiety berkurang. Bila ingin camping di sini juga dipersilakan kok, di dekat balai Paseban ada dua warung dan terdapat kamar mandi.

Ingat, tetap jaga kebersihan dan sopan santun pada warga lokal ya!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *