Petualangan Adinda dan Lidahnya di Malang. Dokumentasi pribadi Rizky Almira

Kalau ke Malang, Jangan Lewatkan Mampir Hok Lay

Kuliner Malang

Cobain menu-menu yang saya rekomendasikan!

Nanti kalau pandemi ini berakhir, mainlah ke Malang dan jangan lewatkan untuk makan di depot Hok Lay. Salah satu rumah makan yang berlokasi di Jl. KH Ahmad Dahlan No.10, Kec. Klojen, Kota Malang.

Depot Hok Lay ini udah berdiri sejak tahun 1946 dan menunya yang terkenal adalah pangsit Cwiemie yang juga jadi menu andalan. Selain menu tersebut, ada Lumpia Semarang, Lomie, Fosco, Limun, dan lainnya. Menu selengkapnya ada di bawah ini ya!

Jangan lewatkan mampir ke Hok Lay. Dokumentasi pribadi Rizky Almira
Jangan lewatkan mampir ke Hok Lay. Dokumentasi pribadi Rizky Almira

Saat terakhir makan di Hok Lay, saya makan Lomie, Fosco, Lumpianya, dan Limun. Si Adinda, teman saya, memesan pangsit Cwiemie. Sayangnya, saya nggak incip jadi kurang tau rasanya seperti apa. Saya akan menceritakan satu per satu menu yang saya makan ya.

Pertama, Lomie

Jangan lewatkan mampir ke Hok Lay. Dokumentasi pribadi Rizky Almira
Ini lho Lomie ala Hok Lay. Dokumentasi pribadi Rizky Almira

Lomie ini bukan kuliner asli Malang, melainkan kuliner yang berasal dari Tiongkok. ‘Lo’ pada Lomie adalah kosakata dalam bahasa Hokkien yang artinya kental. Jadi kalau digabungin Lomie ini adalah mie kental.

Kuahnya memang kental, versi halalnya dibuat dari campuran cumi dan ebi (cmiiw) dengan sentuhan kecap makanya warnanya rada coklat. Kalau versi non halalnya dibuat dari tetelan dan daging babi. Isi dari Lomie ini macam-macam yaitu kangkung, tauge, cacahan daging ayam goreng, pangsit, bakso, rajangan daun bawang, dan bawang goreng.

Rasa lomie ini dominan manis. Sekilas mengingatkan saya akan rasa mie Longkrang di Wonosobo sana, sebab sama-sama kental. Hehehe. Lomie ini nikmat dimakan selagi hangat.

Kedua, Lumpia Semarang

Jangan lewatkan mampir ke Hok Lay. Dokumentasi pribadi Rizky Almira
Lumpia Semarang punya Hok Lay. Dokumentasi pribadi Rizky Almira

Meski namanya Lumpia Semarang, tapi rasanya agak beda dengan lumpia yang ada di Semarang sana. Dari segi ukuran, lumpia Hok Lay lebih kecil. Rasanya lebih gurih dan kulitnya lebih garing.

Disajikan dengan saus lumpia yang rasanya ada asam-asamnya gitu. Saya sih lebih cocok kalau sausnya terpisah, nggak disiram ke lumpianya. Lidah saya kurang cocok dengan cita rasa sausnya.

Tapi sejauh ini, rasa lumpianya lumayan enak.

Ketiga, Fosco

Jangan lewatkan mampir ke Hok Lay. Dokumentasi pribadi Rizky Almira
Minuman yang wajib dicoba. Dokumentasi pribadi Rizky Almira

Susu fullcream rumahan dengan rasa coklat dan yang bikin menarik adalah dikemas dalam botol Coca Cola. Rasanya gurih, manis, dan rada berasa susu sapinya.

Kalau kamu doyan banget minum susu, pasti happy. Saya ini selain lactose intolerant, juga nggak begitu doyan minum susu sapi. Jadi yaa cukup tau aja rasanya seperti apa.

Keempat, Limun

Jangan lewatkan mampir ke Hok Lay. Dokumentasi pribadi Rizky Almira
Rasanya bikin nostalgia jaman kecil. Dokumentasi pribadi Rizky Almira

Ada banyak pilihan di Hok Lay. Limun ini bermerek Linggardjati dengan beraneka rasa, mulai dari lemon lime, coffee cola, sari temulawak asli, sarsaparilla, hingga aardbeien. Sedikit bocoran, coffee cola itu rasanya mirip coffee beer, sarsaparilla itu mirip coca cola, aardbeien mirip fanta stoberi.

Linggardjati ini minuman kemasan legendaris asli Pasuruan yang ada sejak tahun 1948 lho. Dikemas dalam botol kaca yang semuanya tidak berukuran sama. Malah ada yang menggunakan botol bekas beer Bintang.

Jangan lewatkan mampir ke Hok Lay. Dokumentasi pribadi Rizky Almira
Jangan lewatkan mampir ke Hok Lay. Dokumentasi pribadi Rizky Almira

Saya nyobain limun lemon lime, rasanya kayak air gula yang beruap dengan sentuhan jeruk nipis yang samar. Paling enak diminum dingin-dingin. Tapi saya nggak berani minum banyak karena takut radang tenggorokannya kambuh.

***

Untuk tempatnya sendiri, depot Hok Lay ini vintage banget. Bangunannya lawas, pun perabotannya. Paling demen duduk di meja paling depan, paling dekat dengan jendela. Selain pencahayaannya bagus buat foto, saya bisa bengong menatap keluar jendela. Hahasyik.

Di sini selalu ramai oleh pelanggan jadi rada nggak tenang kalau duduk berlama-lama sambil ngobrol ngalor ngidul. Nggak enak aja sama pelanggan lain yang antri tempat duduk.

Nah, untuk tempat parkirnya tricky saking terbatasnya lahan. Kalau naik kendaraan roda dua sih enak ya, bisa nyempil di mana aja. Untungnya ada tukang parkir yang ngebantuin cari tempat parkir pas kesana bawa kendaraan roda empat.

Kalau corona udah pergi, saya pengin kesana lagi ah. Mau makan Cwie Mie dan minum-minum es limun. Hehehe.

Semoga semesta lekas membaik. Amin. 🤲🏽

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *