Perayaan Waisak di Borobudur. Dokumentasi pribadi Rizky Almira

Perayaan Waisak di Borobudur dari Tahun ke Tahun

Cerita Jurnal Perjalanan Tips

Gara-gara pandemi corona, perayaan tahun ini terpaksa ditiadakan.

Pas musim pandemi corona kayak sekarang ini, manusia bisa apa? Manusia hanya bisa merencanakan, selebihnya ya kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Saat ini banyak kegiatan yang terpaksa ditunda sementara waktu, bahkan ada yang dibatalkan. Termasuk perayaan Waisak yang biasa digelar di Candi Mendut dan Borobudur, Jawa Tengah.

Saya terakhir kali datang ke perayaan Waisak yaitu tahun 2019 lalu bersama Nana. Pengalaman tersebut adalah kedua kalinya setelah kesana pada tahun 2016 yang telah saya ceritakan di sini bersama Nana pula.

“Semoga di tahun-tahun berikutnya kita bisa bareng kesini ya. Kalaupun kita udah kerja semua, kita sama-sama ambil cuti dan nyempetin datang ke Waisak bareng.” kata Nana.

Mulanya saya menganggap lalu perkataan Nana, tapi ujung-ujungnya mengamini. Ya siapa tau bakal terwujud, mumpung doa itu nggak bayar. Tahun 2017 nggak bisa kesana bareng, pun tahun 2018. Akhirnya, doa kami baru terwujud pada tahun 2019.

Kami berdua sama-sama berangkat dari Yogyakarta. Berangkat pagi sekali ke Candi Mendut untuk antri dapetin tiket pelepasan lampion yang digelar pada malam puncak perayaan Waisak. Agenda kegiatannya sama kok dengan Waisak sebelumnya.

Bedanya, kali ini pengelola open trip dan travel agent lebih diprioritaskan buat dapat tiketnya beberapa hari sebelumnya. Rada kesal juga sih sebenarnya karena informasinya kurang terbuka.

Pembelian tiket untuk perorangan hanya dijual pada hari H langsung dari panitia Waisak. Nggak ada ticket box, panitia hanya menyediakan tenda khusus pembelian tiket buat pelepasan lampion. Kalau ingin, kamu harus datang sendiri, antri sendiri, kecuali mau beli di calo dengan harga yang lumayan tinggi.

Perayaan Waisak di Borobudur. Dokumentasi pribadi Rizky Almira
Antrian pembelian tiket pelepasan lampion. Dokumentasi pribadi Rizky Almira

Tahun 2016 lalu, 1 tiket buat pelepasan lampion bisa dipakai untuk 2 peserta dengan harga 100ribu rupiah. Sedangkan waisak tahun lalu, 1 tiket hanya berlaku untuk 1 orang dengan harga 100ribu rupiah. Itu pun cuma dapat tiket aja, beda dengan Waisak tahun 2016 yang dikasih bonus air suci.

Perayaan Waisak di Borobudur. Dokumentasi pribadi Rizky Almira
Perayaan Waisak di Borobudur. Dokumentasi pribadi Rizky Almira

Dari segi keamanan, tahun 2019 jauh lebih ketat. Selama acara berlangsung, akses jalan benar-benar ditutup sehingga bagi pengendara roda empat jelas kesulitan buat merapat ke area Candi Mendut maupun Candi Borobudur.

Saran saya sih, mending berangkat ke TKP pagi banget kalau nggak gitu ya siang setelah acara kirab dari Candi Mendut ke Borobudur selesai. Berhubung saya dan Nana naik motor, jadi ya santuy nerobos sana sini. Kami nggak susah menemukan tempat parkir di sekitar Candi Mendut.

Meskipun Waisak tahun lalu juga pas di tengah bulan Ramadhan, saya dan Nana tetap mengikuti kirab dari Candi Mendut ke Candi Borobudur. Awalnya saya enggan buat jalan kaki sekitar 3-4 Km, namanya juga lagi puasa. Namun apa daya terbujuk oleh Nana.

Perayaan Waisak di Borobudur. Dokumentasi pribadi Rizky Almira
Perayaan Waisak di Borobudur. Dokumentasi pribadi Rizky Almira
Perayaan Waisak di Borobudur. Dokumentasi pribadi Rizky Almira
Perayaan Waisak di Borobudur. Dokumentasi pribadi Rizky Almira

Di penghujung acara kirab, tidak jauh dari pintu masuk Candi Borobudur ada pertunjukan kesenian dari kelompok seni lokal. Mulai dari reog sampai pertunjukan musik. Ya lumayan lah buat hiburan.

Momen yang palig dinanti-nanti saat menghadiri perayaan Waisak adalah bagian pelepasan lampion. Acara ini biasanya dimulai sekitar pukul 9 malam setelah meditasi bersama. Namun saya rada kecewa saat pelepasan lampion tahun lalu.

Perayaan Waisak di Borobudur. Dokumentasi pribadi Rizky Almira
Perayaan Waisak di Borobudur. Dokumentasi pribadi Rizky Almira
Perayaan Waisak di Borobudur. Dokumentasi pribadi Rizky Almira
Perayaan Waisak di Borobudur. Dokumentasi pribadi Rizky Almira
Perayaan Waisak di Borobudur. Dokumentasi pribadi Rizky Almira
Perayaan Waisak di Borobudur. Dokumentasi pribadi Rizky Almira

Menurut saya, suasana kurang khidmat saking terlalu banyak peserta. Pelepasan lampion sampai diadakan hingga 2 ronde. Saya kebagian jadwal nglepas lampion pada ronde kedua. Udah gitu, durasi meditasi lebih pendek daripada Waisak sebelumnya. Kurang greget aja gitu lho.

Btw, ini pendapat saya secara pribadi ya. Saya kan hanya ingin menceritakan pengalaman datang ke perayaan Waisak di Borobudur dari tahun ke tahun. Ehe.

Nah, berdasarkan pengalaman-pengalaman itu, saya akan kasih tips buat kamu. Siapa tau kamu punya kesempatan buat kesana tahun depan.

  • Akses ke Candi Borobudur, saya sarankan buat naik kendaraan pribadi. Pasalnya nggak ada kendaraan umum yang kesana. Selain itu lebih fleksibel kalo naik kendaraan pribadi. Kalau kamu dari luar kota, saya sarankan sewa kendaraan dari Yogyakarta.
  • Untuk penginapan, kamu bebas memilih menginap di Yogyakarta atau Magelang. Saran saya sih menginap di Yogyakarta aja dengan pertimbangan jarak antara Yogyakarta dan Candi Borobudur itu sekitar 1 jam doang. Selain itu hotel di Yogyakarat lebih banyak pilihannya.
  • Cari info sebanyak mungkin soal pembelian tiket pelepasan lampion. Just in case, kebijakan soal penjualan tiket berubah dari tahun sebelumnya.
  • Gunakan pakaian yang nyaman dan gampang menyerap keringat. Mengingat perayaan Waisak biasanya jatuh di pertengahan tahun yang cuacanya lagi panas-panasnya.
  • Saya menyarankan buat cari teman jalan, enak buat sharing biaya selama jalan-jalan.
  • Menunggu jeda dari pagi/siang ke malam (saat pelepasan lampion), kamu bisa memanfaatkan waktu buat eksplor Magelang. Di sana juga banyak kuliner dan wisata lain yang patut digali.

Harapan saya, panitia Waisak pada tahun berikutnya bisa lebih matang dalam menyiapkan acara akbar yang digelar tiap tahun ini. Sayang lho kalau nggak dikelola dengan maksimal karena ini event kebudayaan yang potensial untuk menarik wisatawan dari luar. Bisa jadi ajang promosi wisata.

Untuk peserta uang ikut serta perayaan ini, tetap hormati umat Buddha yang sedang beribadah. Nyari konten sih boleh aja asal nggak sampai hati mengganggu kelancaran ibadah mereka. Jadilah pejalan yang bijak!

2 thoughts on “Perayaan Waisak di Borobudur dari Tahun ke Tahun”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *