Berjarak

Jurnal Self-Healing
Antara kamu dan saya

Ada jarak di antara kita. Entah sudah berapa langkah mundur yang kita ambil?

Saya melangkahkan kaki mundur teratur tanpa perasaan gentar.

Diam-diam saya merindukanmu. Saya masih ingat betul hangatnya air matamu yang menempel di pipi saat kita berpisah di tepi ringroad selatan.

Kamu seperti getol ingin saya tinggal lebih lama. Menemani harimu yang sedang sedih-sedihnya itu.

Apa kabar, kamu? Sehat kan? Ada sedikit khawatir akan keadaanmu, tapi saya yakin kamu pasti baik-baik saja di sana.

Dua bulan ini, kamu hanya sekali singgah di mimpi saya. Itu pun hanya sekilas. Bila sesuatu terjadi padamu, saya ikut merasakannya lewat mimpi. Aneh.

Kamu bukan seorang teman biasa. Kamu pernah jadi segalanya untuk saya. Terasa sangat menyenangkan saat di dekatmu. Sempat terhempas badai toh ujung-ujungnya kamu kembali pulang.

Kita pun kembali berjalan beriringan.

Namun kepulanganmu tak serta merta dengan tangan kosong. Kamu pulang dengan sebungkus gelisah dan duka.

Mungkin memang saya tak layak jadi rumah untukmu. Bagimu, rumah adalah tempat yang mau menerima kepulanganmu tanpa dendam.

Saya tak sesuci itu. 🙂

Kamu dan saya adalah dua manusia –yang katanya bersahabat– dengan ketidaksempurnaan masing-masing.

Iya. Benar.

Saya yang sulit memaafkan dan kamu yang suka memperlakukan saya demikian.

Adakalanya saya ingin memulai dari awal. Memaafkan semuanya. Namun sisi lain pada diri saya menolak.

Saya sedang merindukanmu, kawan.

Kamu yang sempat cemburu dengan segala yang saya punya.

Kamu yang selalu berusaha menjaga hati saya.

Kamu yang ikut suka Endah n Rhesa.

Kamu yang suka mengajak saya nongkrong di bandara.

Kamu yang suka marah-marah atas keleletan saya.

Kamu yang selalu minta saya potret.

Kamu yang nggak segan-segan mencakar, meluapkan amarah dengan memukul kasur ketika kita bertengkar.

Kamu yang manja dan sering merengek di hadapan saya.

Kamu yang sering mengajak dan menemani saya untuk mencoba hal baru.

Kamu yang sering memasak untuk saya.

Kamu yang memotivasi saya untuk menanam dan makan lebih banyak sayur.

Kamu yang sering memeluk saya, entah memelukmu adalah hal ternyaman bagi saya hingga detik ini. Pelukanmu menenangkan saya. Apalagi ketika saya berada di titik terendah. Pelukanmu adalah obat pereda kalut.

Kamu yang nggak segan untuk berkeluh kesah dan menangis di hadapan saya.

Kamu yang sikap machonya hilang begitu di hadapan saya.

Kamu yang punya segudang mimpi dan tak pernah ingin membiarkan saya sendiri di masa depan.

Kamu yang sering banget mengajak saya untuk makan mie dan duduk berlama-lama di angkringan.

Kamu yang suka mengajak saya naik motor keliling Malioboro hingga Alun-alun kidul hanya demi mengusir jemu.

Saya ternyata benar-benar sedang merindukanmu.

Kamu yang dulu. Kamu yang menggebu-gebu dengan segala sikap manismu.

Sekarang, kamu dan saya ada di jalan yang mungkin berjauhan. Mungkin berlawanan. Mungkin juga tak sejalan.

Kamu dan saya sedang menjalani hidup masing-masing.

Masing-masing dari kita punya banyak mimpi yang harus diraih.

Besok atau suatu hari nanti bila Tuhan mengizinkan, mungkin kamu dan saya akan kembali berjumpa.

Sejauh mana perubahan kita. Semoga saya sudah memaafkan kamu jauh lebih banyak dari sebelumnya.

Tunggu di ujung jalan sana ya!

Tunggu saya yang sedang berusaha memaafkan diri sendiri dan masa lalu.

Semoha Tuhan mengizinkan kita untuk saling berpelukan sekali lagi tanpa bayang dendam apalagi benci.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *