Pilkades serentak 2019 di Kabupaten Blitar. Dokumen pribadi Rizky Almira

Pengalaman Berpartisipasi pada Pilkades Serentak 2019 di Kampung Halaman

Jurnal
Pesta demokrasi telah usai, saatnya memulai kembali.

Tiga hari lalu, desa saya baru menggelar hajatan agung. Kenapa saya menyebutnya begitu? Karena Pemilihan Kepala Desa ini hajatan milik semua warga se-desa yang diselenggarakan setiap enam tahun sekali. Momen ini sangat penting dan bersejarah untuk menentukan nasib masyarakat di desa enam tahun kedepannya. Kabupaten Blitar, termasuk desa saya, baru saja menyelenggarakan Pilkades serentak pada Selasa lalu, 15 Oktober 2019.

Beberapa bulan yang lalu, saya ditunjuk dan dipercaya masyarakat sebagai anggota panitia Pilkades tahun 2019 dan merangkap sebagai bendahara. Jujur, ini adalah pengalaman pertama saya menjadi bendahara dalam sebuah kepanitiaan. Seringnya sih masuk ke divisi konsumsi. Empat bulan belakangan saya disibukkan rapat koordinasi, baik dengan rekan panitia maupun melibatkan masyarakat.

Jelas, banyak sambatnya (terima kasih pada Ibu yang selalu mendengarkan keluhan saya sepanjang waktu. Ehe). Gimana enggak sambat sih, ges? Jatah saya untuk istirahat mesti berkurang untuk merapat ke sekretariat. Jatah waktu untuk me time dan bertemu kawan-kawan, mau nggak mau saya relakan untuk mengurusi kegiatan terkait Pilkades.

Puncak kesibukannya adalah seminggu menjelang Pilkades. Selain mempersiapkan untuk kegiatan konsumsi, saya juga membantu Sang Sekretaris untuk membuat laporan. Bantuin ngapain? Ya fotokopi, belanja ini, belanja itu. Wira wiri sok sibuk gitu. LOL. Namun gara-gara Pilkades ini, saya jadi mengenal warga lebih banyak, hafal lebih banyak nama.

Saat Pilkades, ada banyak warga yang terlibat. Pertama, panitia Pilkades tiap desa yang terdiri dari 7 orang (3 dari perangkat desa, 4 dari masyarakat). Kedua, KPPS atau Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara yang dibentuk untuk masing-masing dusun. Nah, desa saya terdapat 4 dusun sehingga ada 4 KPPS dengan jumlah masing-masing 7 orang. Ketiga, Linmas atau Perlindungan Masyarakat yang terdiri dari 8 orang yang dibagi untuk mengamankan 4 KPPS. Kelima, Pantarlih atau Panitia Pendaftaran Pemilih yang berjumlah 32 orang. Satu orang petugas pantarlih memegang 1 RT.

Iya, saya jadi kenal dengan petugas-petugas itu. Ada hikmahnya menjadi koordinator honor petugas se-desa karena bikin saya dikenal lebih banyak orang. Saking lamanya merantau, kadang warga tidak tau saya ini siapa dan yang mana orangnya. wqwq. (Ya iyalah, siapa saya?!!)

Semakin mendekati hari-H, semakin deg-deg an. Saya baru tau, ternyata pas menjelang Pilkades itu ada tradisi silarutahmi ke semua calon Kepala Desa lho. Jadi sehari sebelum Pilkades, usai gladi resik di lokasi pemungutan suara, kami semua –panitia, KPPS, Babinsa, Bhabinkamtibmas dan linmas– sowan ke rumah calon. Semua kami datangi tanpa terkecuali.

Ckckck. Saya baru tau lho ada tradisi kayak gini. Kata Ibu saya, tradisi ini telah ada sejak dahulu kala. Jadi jangan heran kalau sehari sebelum Pilkades, rumah masing-masing calon mengadakan open house. Mendadak seperti lebaran, nggak cuma jajan tapi juga disediakan makanan. Maaf ya, saya agak norak karena baru tau ada tradisi seperti ini. 😀

Puncak deg-degan adalah di hari H. Saya ngopeni banyak orang dari pagi sampai malam. Warga nampak datang berduyun-duyun dari pagi, padahal Pilkades belum dimulai. Saya akui, antusias warga yang datang cukup tinggi. Jumlah yang hadir adalah kurang lebih 73% dari total DPT atau daftar pemilih tetap di desa saya. Ramai sekali.

Proses pemungutan suara berlangsung mulai pukul 07.00 WIB hingga 13.00 WIB. Ada jeda sejenak untuk seluruh panitia istirahat, solat, dan makan. Lalu dilanjut dengan perhitungan suara yang dilakukan secara bergantian dari keempat dusun. Selama perhitungan suara berlangsung, warga pun juga antusias dan setia menonton. Ada yang duduk di kursi dan memadati area luar tenda. Bahkan ada yang rela berdiri berjam-jam demi menonton proses perhitungan.

Proses perhitungan suara ini berakhir sekitar pukul 21.00 WIB. Petahana dikalahkan oleh penantang dengan nomor urut 3 yang unggul di semua dusun. Tepuk tangan penonton riuh ketika ketua panitia membacakan berita acara tentang kemenangan calon Kepala Desa terpilih. Simpatisan pun langsung berduyun-duyun menghampiri calon Kepala Desa terpilih untuk memberi ucapan selamat. Calon Kepala Desa pun pulang dengan diarak ratusan orang.

Meriah sekali kan? Sangat berbeda dengan Pilbup, Pilgub, bahkan Pilpres sekalipun. Keesokan harinya, ada tradisi di desa yang juga nggak boleh dilewatkan. Saya bersama rekan sekantor silaturahmi lagi pada calon Kepala Desa yang terpilih itu. Open house ini berlangsung selama 2 sampai 3 hari pasca Pilkades. Udah kayak punya hajat besar aja ya? Itu lah tradisi di desa Sumberagung, kampung halaman saya di Kabupaten Blitar.

Pilkades telah usai, namun cerita belum berhenti di sini. Masih banyak pekerjaan rumah yang menanti di depan. Ingat, ini bukanlah babak akhir melainkan babak awal. Pesta demokrasi pemilihan Kepala Desa memang selesai, namun cerita dengan pemimpin baru masih akan dimulai.

Kamu punya pengalaman berkesan juga nggak tentang Pilkades di kampung halaman?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *