Surat Digital untuk Tuhan #1

Jurnal
Semoga dibaca oleh Gusti Allah.

Apa kabar, Tuhan? Kira-kira Dikau sedang apa? Apakah sedang melotot mengawasi hamba? Atau bersikap bodoh amat dengan hamba?

Maafkan hamba yang masih jadi pendosa. Tak perlu lah ya saya utarakan satu persatu. Tuhan kan Maha Tahu jadi nggak perlu saya ceritakan panjang lebar.

Terima kasih banyak, Tuhan, atas segala sentuhan kasih yang Kau kirim lewat apapun yang telah hadir di sepanjang perjalanan hidup saya.

Terima kasih telah menitipkan hamba pada orang tua kandung dengan menciptakan kondisi seperti saat ini. Setidaknya saya bisa belajar banyak soal kehidupan orang dewasa dengan berkaca pada kisah kasih mereka.

Terima kasih telah mempercayakan soal tumbuh kembang saya pada Bapak dan Ibu angkat yang sabar juga penyayang. Mereka gigih mendidik saya agar menjadi anak yang mandiri dan bisa melindungi dirinya sendiri. Bahkan hari ini pun, saya tak luput membuat Ibu geram karena ulah saya yang menyebalkan. Tapi kasih Ibu tak pernah putus untuk saya.

Terima kasih banyak telah mengirim adik-adik untuk menemani hari-hari saya. Tingkah polah mereka yang beragam senantiasa mewarnai hidup saya. Saat ini mereka juga berperan sebagai teman meski usia kami terpaut cukup jauh. Meski sering jengkel dengan perilaku mereka yang tak sesuai dengan kemauan saya, tapi percayalah bahwa jauh di lubuk hati saya sangat menyayangi mereka.

Terima kasih banyak telah mengirim orang-orang untuk menjadi apapun di hidup saya. Seringkali saya merasa beruntung punya sahabat yang tetap tinggal hingga saat ini. Ia menemani saya dalam kondisi apapun dan mau menerima bagaimanapun saya. Namun tak segan mengingatkan bila saya salah ambil jalan.

Teman-teman yang suportif, tak pelit memberi kritik dan saran. Tak bosan mendengarkan keluhan dan sudi menawarkan pelukan. Bahkan ada yang mengajak berkolaborasi supaya bisa tumbuh bersama.

Saya juga merasa beruntung diperkenalkan dengan orang-orang yang bagai air dan sinar mentari, punya peran pada hidup saya dalam proses tumbuh menjadi manusia yang hidupnya semakin berkualitas dari waktu ke waktu.

Terima kasih, Tuhan, Dikau mengirim orang-orang yang memang hadir untuk memberi saya pelajaran hidup dengan cerita luka. Saya mulai mengerti, Dikau mengirim mereka sebagai penyeimbang rasa dalam hidup hamba. Mereka adalah bagian dari takdir yang tak bisa saya hindari sejauh apapun saya berlari dan sembunyi.

Terima kasih atas segala penyakit yang Engkau tiup pada tubuh hamba. Saya anggap itu adalah teguran sayang dari-Mu. Supaya saya lebih mengenal, menerima, dan mencintai diri sendiri. Sakit juga bisa jadi nikmat darimu supaya saya bisa beristirahat sejenak dari rutinitas.

Terima kasih banyak atas kesempatan hari ini, saya bisa menggelar lapak buku di tepian jalan meski dengan persiapan yang ala kadarnya. Semoga besok masih ada kesempatan lagi untuk melakukan hal yang sama dengan persiapan lebih matang. Tujuannya cuma satu, memudahkan orang lain dalam mengakses literasi lebih banyak lagi.

Pokoknya terima kasih banyak pada Tuhan yang tak henti-hentinya memberi kesempatan untuk saya berbenah setiap harinya. Harapannya, menjadi manusia yang bisa berbagi lebih banyak tak hanya dengan materi tapi juga dengan pengalaman dan tulisan seperti ini.

Tuhan, pokoknya terima kasih untuk kemarin dan hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *