Jalan-jalan ke Banyuwangi. Dokumentasi pribadi Rizky Almira

Akal Sadar, Hati Barbar

Jurnal

Siapa pernah ngalamin kayak gini?

Gimana ya caranya supaya akal dan hati ini sejalan, selaras, dan seimbang? Masih saja seringkali keduanya jalan tapi ke arah berlawanan ketika menghadapi suatu hal yang nggak penting sampai genting banget.

Hingga tulisan ini kamu baca pun saya belum berhasil lho nyari rumus jitu supaya akal dan hati nggak bertentangan. Kamu punya resep rahasianya nggak? Kalau punya, saya mau dong. 😌

Indomi rebus atau goreng mempesona setiap saat. Apalagi ditambah telur mata sapi baik digoreng maupun direbus bersama mie, tidak lupa dengan irisan cabai rawit. Akal menegaskan kalau saya makan mie instan, perut akan tidak nyaman dan itu kurang baik untuk kesehatan. Sementara hati merayu, “Ayo lah, kalau ingin makan mie ya makan aja. Boleh lah sekali-kali, nggak tiap hari juga kan?”.

Soal hasrat ingin makan mie hanya sebagian contoh kecil aja. Ada yang lebih genting lagi buat saya yaitu soal rasa. Perasaan kagum yang perlahan bisa jadi rasa sayang pada seseorang. Sayangnya, perasaan itu nggak melulu menjelma seperti bunga-bunga yang bermekaran di tengah taman. Perasaan itu bisa saja bak rumput liar di halaman rumah.

“Kamu harus mencerabutnya dari halaman, rumput-rumput liar itu mengundang ular dan binatang liar lain. Itu membahayakan dirimu sendiri!” kata si Akal.

“Apa salahnya sih membiarkan rerumputan itu tumbuh di halaman? Siapa tau ada tanaman lucu yang tumbuh dengan sendirinya. Lagian nggak jelek-jelek amat kok ada rerumputan di halaman. I can handle it lah!” kata si Hati.

Si Akal ngasih peringatan, tapi si Hati tetap nyelonong terus dengan perasaan yang entah datang dari mana itu. Saya nggak tau, perasaan itu resepnya apa sih kok tau-tau bisa tersaji di piring begitu aja? Apa selama ini saya nggak sadar kalau diam-diam telah meramunya sendiri?

Hati memang sulit ditebak. Akal pun sering heran. Perihal siapa yang ia sukai kadang bikin akal nggak habis pikir. Why? Kenapa harus suka dengan orang itu? Kamu nggak tau kalau bakal rumit urusannya semisal kamu sayang sama dia dan dia pun menyimpan perasaan yang sama?

Semesta tuh lucu ya. Curiga deh dia salah satu alumni Srimulat yang melegenda itu. Tau-tau numbuhin perasaan pada orang yang sudah jelas-jelas kalian tidak bisa bersama. Bisa bayangin nggak?

Kamu menyimpan rasa untuk seseorang yang kamu tahu sendiri hal itu tidak boleh karena banyak alasan. Misalnya saja ya, perbedaan kasta, perbedaan keyakinan, sampai bertentangan dengan norma yang berlaku di lingkungan kamu.

Hidup adalah pilihan, katanya. Saya, kamu, dia, mereka, kita semua bebas memilih tapi nggak akan pernah terbebas dari resiko. Bagian tersulit bagi saya adalah saat menentukan pilihan.

Bila saya menuruti kemauan akal, rasanya kok saya berkhianat ya sama diri sendiri. Sebaliknya, bila menuruti apa kata hati kok terdengar egois ya. Lalu kemana saya hendak melangkah ya? Ke kiri, ke kanan, ke depan, ke belakang, ke atas, ke bawah, kemana? Serius, ini adalah kebimbangan hakiki.

Pada akhirnya, mencintai seseorang itu diikuti pengorbanan. Bisa jadi perasaan itu sendiri yang akhirnya mau nggak mau dikorbankan. Bisa jadi keluarga yang dikorbankan. Bisa jadi persahabatanmu yang dikorbankan. Bisa jadi ego yang dikorbankan.

Ujung-ujungnya ya semua kembali pada diri untuk memilih mau dibawa kemana perasaan itu? Bebas memilih untuk mendengarkan akal yang masih sadar atau hati yang kadang barbar.

Blitar, 26 Februari 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *