Berlatih Legawa. Dokumentasi pribadi Rizky Almira

Berlatih Legawa

Jurnal Self-Healing
Sesuatu tidak berjalan dengan kemauan adalah hal yang lumrah.

Pernahkah kamu telah merencanakan dengan matang lalu ambyar begitu saja? Pernahkah kamu membayangkan akan melakukan suatu hal eh ternyata batal? Pernah kan? Sama, saya juga pernah mengalaminya. Sering malah. Kejadian seperti itu adalah hal yang manusiawi.

Di sepanjang jalan, saya membayangkan bagaimana lezatnya nasi dori katsu sambal matah atau nasi tofu katsu atau menu nasi lainnya. Perut sudah keroncongan. Saya berniat makan siang di Kolondjono, kedai khusus makanan dan minuman berbahan organik yang sering jadi temppat singgah saat masih tinggal di Yogyakarta.

Jreng… jreng…

Ternyata Kolondjono masih tutup. Entah sejak kapan Kolondjono buka dari Senin – Sabtu mulai pukul 14.00 – 22.00 WIB. Dulu sih kedai buka mulai jam 10.00 WIB. Sementara angka pada jam tangan menunjukkan jam 13.45 WIB. Mau pergi, tapi sama sekali tidak ada ide ingin makan di mana. Mau nggak mau, saya pun akhirnya menunggu 15 menitan hingga Kolondjono buka.

“Mas, udah buka?” saya menghampiri mas Barista yang sedang membukakan pagar Kolondjono.

“Udah kok, Mbak.” jawabnya dengan ramah.

Saya pun bergegas masuk sembari membawa sebagian barang belanjaan dan menyimpannya pada rak yang Kolondjono sediakan persis di samping pintu masuk. Khawatir bila tiba-tiba turun hujan. Nggak mau kalau helm dan belanjaan basah kuyup.

“Udah bisa pesan kan, Mas?”

“Bisa, tapi maaf ya, Mbak, kecuali nasi belum bisa dipesan.”

“Oh, okay. Tak apa.”

Seolah semua baik-baik saja padahal dalam hati menangis karena lapar banget. :'( Saya memandangi menu satu per satu. Menu-menunya tidak banyak berubah semenjak terakhir kali saya kesini. Dari sekian banyak menunya, favorit saya adalah nasi merah dori katsu sambal matah, pedas dan sambalnya itu lho yahut. Pastanya juga enak. Saya pernah coba semua.

“Mas, saya pesan spageti aglio e olio dan smoothy kale, apel, dan lemon.”

 

Berlatih Legawa. Dokumentasi pribadi Rizky Almira
Berlatih Legawa. Dokumentasi pribadi Rizky Almira

 

Saya memilih meja kursi yang menghadap jendela dengan pemandangan halaman rumah samping Kolondjono. Banyak tanaman makanya saya suka. Tempat ini masih jadi favorit untuk introver kayak saya. wqwq. Suasana di sini masih sama seperti dulu. Musik jazz menghangatkan suasana kedai yang tak terlalu luas ini.

Mas Barista membawa nampan pesanan saya. Ia meletakkan segelas jus sayur dengan warna hijau pekat di hadapan. Aroma kale menusuk indra penciuman saya. Lalu disusul dengan seporsi spageti ….. lho kok beda?! Dih, saya kan pesan spageti aglio e olio. Kenapa yang diantar malah spageti oriental?!

 

Berlatih Legawa. Dokumentasi pribadi Rizky Almira
Berlatih Legawa. Dokumentasi pribadi Rizky Almira

 

Wealah…dalaaaah. Mau marah tapi ya sudahlah. Mau nggak dimakan, tapi sayang uang. Mau dimakan, spagetinya rada pedas. Bismillah saja deh. Untung rasanya enak hanya saja rada pedas untuk ukuran lidah saya. Menurut saya, spageti oriental ini cocok dipesan oleh siapapun yang berselera masakan nusantara. Lidahnya akan familiar dengan cita rasanya yang gurih-gurih pedas.

“Kak, kamu di mana?” tanya si Nana.

“Aku lagi makan nih. Kamu udah kelar kerjanya? Saatnya jemput?”

“Belum… Aku sebal, mau pulang eh ada meeting dadakan. Kayaknya pulangku molor deh, Kak.”

Rencananya, saya akan ikut Nana pulang ke Kebumen pada sore itu. Tentu menunggu Nana sepulang dari kerjanya. Kami telah merencanakan untuk jogging pagi di tengah Kota Kebumen lalu makan nasi penggel, kuliner khas di sana. Nyatanya, mood kami lenyap lebih dulu sehingga mengurungkan niat untuk pergi ke Kebumen.

Saya ngajak Nana nekat pulang saja. Tapi dia tidak mau. Saya nyaranin dia untuk pulang sendirian saja naik kereta atau bus atau travel. Dia tidak mau. Akhirnya, kami pun melewatkan akhir pekan di Yogyakarta. Biarpun tidak jadi anjang sana ke rumah Nana, setidaknya rencana jogging pagi pun tetap terlaksana. Bonusnya, kami mencicipi pengalaman baru sewa sepeda di kawasan Malioboro.

Sebelum makan siang di Kolondjono, mood saya juga hampir ambyar. Lelah mencari kios penjual gerabah dan kerajinan tangan langganan yang ada di Pasar Beringharjo. Naik turun tak kunjung ketemu. Setelah mengikuti insting, akhirnya saya kembali bersua dengan ibu, si pemilik kios langganan, yang meladeni saya dengan sabar. Seolah saya ini cucunya sendiri. Iya, si Ibu mengingatkan saya pada mendiang nenek.

 

Berlatih Legawa. Dokumentasi pribadi Rizky Almira
Berlatih Legawa. Dokumentasi pribadi Rizky Almira

 

Titipan ibuk di rumah tidak hanya kuali. Ada beberapa perintilan lain. Saya pun naik turun tangga pasar. Begitu dapat barangnya, eh ibuk rupanya kurang puas dengan hasil belanjaan saya. Padahal terlanjur dibayar dan saya telah berpindah ke parkiran. Haduh…

Bawaan yang seabrek ditambah dengan panasnya Yogyakarta bikin saya lebih sering menggerutu. Capek. Tapi mau gimana lagi? Mau sambat pada siapa? Sometimes, I only have myself.

Saya menaruh kuali di antara jok dan kemudi, ditambah dengan tas, belanjaan lain, dan kardus. Susah payah jaga keseimbangan biar kuali tidak jatuh di jalan. Semua barang ini harus segera dikirim ke rumah pakai KALOG berbarengan dengan oleh-oleh lain. Untung Nana pulang tak larut malam. Paket saya pun berhasil terkirim pada hari itu.

Drama tak berakhir di situ. Begitu tiba di depan kantor KALOG, eh tutup dong. Ternyata kantornya pindah di utara bangjo Sarkem (Pasar Kembang) atau timurnya pintu masuk/keluar stasiun. Ehe. Untungnya belum tutup.

Ya begitu lah sebagian kecil drama dalam kehidupan. Seringkali kita menemui kenyataan yang nggak sejalan dengan apa yang diinginkan. Banyak berlatih legawa biar terbiasa dengan rasa kecewa. Mau marah ya percuma. Toh nggak akan mampu mengubah jalan cerita kecuali kamu adalah Tuhan. Setuju tidak?

4 thoughts on “Berlatih Legawa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *