Bayangan tangan. Foto dari Pixabay

Cerita Pelecehan Seksual terhadap Perempuan

Jurnal Perempuan

Pelecehan seksual bisa terjadi di manapun, baik di ruang publik maupun di lingkungan terdekat.

Cerita kali ini topiknya agak sensitif bagi sebagian orang. Si Ara –bukan nama sebenarnya– tiba-tiba ingin menceritakan kisah yang nggak ngenakin dan pernah ia alami di masa lalu. Dia membulatkan tekad membagikan kisahnya demi meringankan beban pikiran Ara.

Sialnya kejadian yang nggak ngenakin itu susah dilupakan oleh Ara dan kadang menimbulkan rasa takut. Apalagi kejadiannya nggak cukup sekali terjadi di hidup perempuan yang kini usianya hampir menginjak kepala 3.

Pelecehan seksual bisa terjadi di mana saja, termasuk ruang publik.

Cerita pertama. Kala itu Ara masih duduk di bangku sekolah dasar. Dia menceritakan sedang ada kompetisi sepak bola antar sekolah dan diadakan di lapangan yang tak jauh dari sekolahnya.

Aku bersama teman-teman sekelas ramai-ramai datang ke lokasi untuk menjadi supporter. Ketika pulang, teman-teman perempuanku mendadak cemas karena ada laki-laki asing yang menunggu di ujung gang –samping lapangan– dan berdiri mengamati setiap gerak-gerik perempuan yang lewat.

Aku ikut was-was. Tapi kalau nggak nekat, kami akan terjebak di situ entah sampai kapan. Ditambah dengan situasi yang makin sepi. Akhirnya, aku dan beberapa teman yang tersisa membulatkan tekad buat lari.

Eh, nggak taunya dia malah nyamperin kami dan aku merasakan telapak tangan laki-laki asing itu menyentuh kemaluanku. Sumpah, pulang dari situ aku merasa jijik dengan diriku sendiri. Bahkan aku sampai menghindari pergi atau sekadar lewat gang itu cukup lama karena takut akan bertemu dengan laki-laki itu lagi.

Cerita kedua. Kejadian nggak ngenakin ini terjadi lagi ketika Ara duduk di bangku kelas 3 SMA dan sedang bepergian ke luar kota.

Musibah kedua ini jauh lebih parah dan aku merasa geli kalau ingat. Saat itu aku sedang di kereta menuju Surabaya. Belasan tahun yang lalu, naik kereta belum senyaman sekarang. Penumpang banyak yang berjubel di sepanjang lorong karena belum menggunakan sistem nomor kursi seperti sekarang. Diperparah dengan penumpang yang sedang banyak-banyaknya pas akhir pekan.

Aku berdiri sembari berpegangan pada sandaran kursi terdekat. Tepat di belakangku adalah seorang lelaki yang usianya mungkin sebaya atau bahkan di atas usia bapakku. Awalnya aku biasa saja, tetapi makin lama bapak itu posisi tubuhnya kok semakin dekat dengan tubuhku.

Aku merasakan sesuatu yang keras menempel di pantatku. Bapak itu terus maju dan benda yang mengeras itu makin nyata. Aku mulai was-was. Selang beberapa waktu, deret kursi di depanku kosong. Aku segera menempati kursi kosong yang tepat di samping jendela.

Bapak asing itu merapat duduk di sampingku. Dia mencoba merangkulku dan tiap kali ia melancarkan aksinya itu berhasil aku tangkis. Tangannya tak menyerah untuk bergerilya ke area dadaku. Aku mulai marah. Aku ingin teriak. Tetapi aku sangat malu untuk meminta tolong karena diperlakukan seperti itu. Takut banget pas itu.

Selain itu, pikiranku juga kemana-mana. Was-was kalau bapaknya ngaku-ngaku sebagai sanak saudara untuk defense. Lalu aku bisa apa? Aku cuma pengen kereta segera tiba di Surabaya. Apa aku pasrah saja? Enggak, aku beberapa kali menyikut bapaknya. Tapi tenaga bapaknya cukup kuat dan belum menyerah juga.

Lega banget ketika kereta tiba di Stasiun Gubeng, aku segera berdiri dan menuju pintu padahal kereta belum berhenti dengan sempurna. Bapak itu terus mengikutiku. “Kamu ada yang jemput nggak? Mau bapak anter? Mau ya? Rumahmu di mana, nduk?” tanyanya. Aku membisu karena menahan tangis dan segera berlari menemui teman (yang syukurnya) telah menungguku di area stasiun.

Cerita ketiga. Bahkan di terminal pun pelecehan seksual juga rawan terjadi.

Aku merantau ketika kuliah jadi beberapa minggu sekali biasa mondar mandir di stasiun atau terminal untuk pulang ke kampung halaman. Lagi-lagi aku nggak bisa ngelak akan terjadinya hal yang nggak ngenakin itu. Aku suka menggantung ransel di depan sebagai bentuk siaga terhadap hal-hal tak terduga seperti copet.

Pas aku jalan kaki dengan santai di antara lorong, tiba-tiba ada lelaki asing mendekat dan dengan cekatan tangannya menyelip di antara tas dan tubuhku. Ia meraba dan meremas dadaku. Aku kaget banget dan nggak bisa nglawan karena you know lah di terminal banyak banget preman.

Aku cuma bisa memandangnya dengan sengit. Orang itu yang wajahnya hanya teringat samar pun tersenyum puas.

Cerita keempat. Ara dapat perlakuan yang kurang menyenangkan dari tukang pasang wifi.

Ini terjadi sekitar setahun yang lalu. Pelecehan seksualnya nggak secara fisik tetapi verbal. Saat itu aku sedang mencari tukang pasang wifi. Rencananya, aku mau pasang indihome di rumah. Sayangnya, jaringan di area rumahku penuh. Sementara aku sedang butuh tersedianya koneksi internet yang stabil untuk kerja.

Aku pun diberi nomor kontak ‘tukang pasang wifi’ dari bapak kandung. Rupanya, mas X (si tukang pasang wifi itu) menyanggupi. Untuk pemasangan wifi butuh waktu beberapa hari dan aku harus bayar dp sekian ratus ribu dulu.

“Dp diantar langsung ke tempatku aja. Aku nggak menerima transfer.” jawabnya pas aku desak minta rekening bank untuk ngasih uang DP. Mau nggak mau, aku pun mengalah dengan nyamperin ke tempatnya yang notabene itu jauh banget dari rumahku.

Aku datang ke tempatnya malam hari, setelah magrib. Aku nggak minta untuk janjian jam segitu ya, itu karena mas X masih pasang antena wifi di rumah klien dan terpaksa nunggu hingga dia pulang. Aku membayangkan tempatnya adalah sebuah ruko atau paling nggak toko. Ternyata itu rumah dong.

Aku mulai cemas karena kondisinya Mas X sendirian di rumah. Awal-awal obrolan kami biasa saja, sekadar basa-basi ‘habis dari mana, rumah kamu mana, area sana bisa nyaut wifinya apa enggak, dll’. Lama-lama komentarnya kemana-mana. Paling sakit adalah mengomentari penampilanku yang ia anggap nggak sesuai dengan standarnya. Please, dia nggak berkaca dengan penampilannya yang super alay. Pakai celana pensil yang super ketat, cukuran rambut yang berantakan dan dicat, mukanya juga nggak ganteng-ganteng amat. Sama-sama di bawah standar aja nyacat.

Ia menghakimiku karena sering bepergian sendiri. Aku dibilang tidak seperti perempuan normal. Penampilanku acak adut. Padahal saat itu adalah momen pertama kami bertemu dan hubungan kami sebatas antara pelanggan dan penyedia jasa. Aku mulai nggak nyaman dan pamit pulang setelah memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan sebagai DP pemasangan wifi.

Tapi dia menahanku pulang dan dengan beraninya menyuruhku menginap. Emosiku mulai naik (dan berusaha kuat untuk mengendalikannya) dan memutuskan segera pulang. Nggak nyangka banget, setelah mas X ini bawa tim ke rumah buat pasang antena wifi terus agresif lewat whatsapp chat mengajakku jalan bareng sekadar makan malam. Aku risih, tapi urusan pasang memasang antena wifi ini belum kelar.

Nggak taunya, orang-orang yang kukira timnya itu curhat ke bapakku kalau mas X susah banget dihubungi dan uang DP yang pernah kukasih itu belum diserahkan ke timnya untuk dibelanjakan. Padahal dia agresif banget ngajak aku keluar. F*ck you!

Aku marah semarahnya pada diriku sendiri. Aku juga kesal dengan bapak kandungku yang memberi rekomendasi. Rupanya bapakku asal nyomot kontak di facebook. Aku kesal sejadi-jadinya tapi mau gimana lagi? Sudah terlanjur kan?

Pelaku pelecehan seksual juga bisa dari lingkungan terdekat.

Cerita kelima. Ara masih menyimpan kisah ini untuk dirinya sendiri. Ia nggak ada keberanian buat cerita pada orang tuanya.

Aku kalau ingat ini nggak kalah jijik sama cerita-cerita sebelumnya. Bayangin aja, pelakunya adalah bapak kosmu sendiri yang keluargamu juga mengenalnya dengan citra yang baik.

Di luar sana, citranya dikenal sebagai seniman difabel (tunanetra) yang dielu-elukan banyak orang. Ya mereka nggak tau aja aslinya kayak apa, kan aku yang serumah dengannya selama 2 tahunan lebih. Mulai dari aku pertengahan semester sampai aku wisuda.

Bapak kosku adalah duda yang hubungan dengan mantan istrinya buruk. Dia ditemani seorang asisten pribadi yang statusnya masih jadi istri orang plus diam-diam menjalin hubungan istimewa dengannya. Sumpah, di kos itu banyak dramanya. Suami si asisten pribadi itu cemburu banget dengan bapak kos.

Aku jadi saksi rentetan drama yang kayak nggak ada ujungnya itu. Paling parah adalah suami si asisten pribadi menerorku lewat sms yang menyuruhku segera hengkang dari rumah itu. Selain teror lewat sms itu, suami si asisten pribadi bermain dukun dan kerap kali aku menemukan barang-barang aneh di halaman kosan. Aku yang biasanya menyapu pecahan semacam bata merah atau genteng yang sengaja disebar di halaman.

Bapak kosku juga orangnya percaya dengan ilmu hitam, beberapa kali dia mengundang dukun ke kosan entah untuk doa hajat apa. Kalau udah begitu, aku biasanya mengungsi kemana gitu atau berdiam diri di kamar.

Pas asisten rumah tangga nggak ada di kosan, bapak kosku suka mengetuk pintu kamarku. Berbasa basi mengajak ngobrol, aku menanggapinya tergantung kondisi mood. Bila sedang tidak ingin diganggu, aku sering bilang mulai ngantuk dan ingin segera tidur.

“Pintu kamarmu jangan dikunci ya, Ra. Biar aku bisa bangunin kamu pas butuh bantuan buat minum obat.” pesannya yang nggak pernah ketinggalan.

Aku masih biasa saja. Tapi keadaan makin parah ketika aku pindah ke kamar yang lebih sempit, lebih murah. Letak kamarnya ada di dalam rumahnya. Hal ini terpaksa kulakukan untuk menekan pengeluaran bulanan. Cukup bayar 300ribu, dapat kamar 3×4 di Kota Surabaya. Bonusnya, makan gratis.

Tapi ya gitu, sistemnya kekeluargaan yang artinya aku nggak sekadar numpang tidur. Sesekali aku berinisiatif buat bantu-bantu asisten rumah tangga memasak, menyiapkan kopi untuk bapak kos, dan jaga kosan bila bapak kos ada agenda mengisi acara baik di dalam maupun luar kota.

Bapak kosku mulai berani menyuruhku melakukan hal-hal yang (sumpah) ini sangat nggak nyaman buatku. Meminta tolong untuk memijatnya setelah berbasa-basi apa aku di rumah pernah memijat bapakku sendiri.

Aku risih ketika menyentuh badannya tapi sebisa mungkin aku tahan perasaan itu. Aku mencoba memaklumi sikapnya karena ya namanya juga difabel dan nggak punya siapa-siapa selain asisten pribadinya, apa salahnya aku membantunya.

Tetapi makin lama, dia semakin berani. Secara nggak langsung menuntutku untuk menyediakan waktu untuknya, entah buat menemaninya merangkai gelang dan kalung, menuntunnya beli rokok di warung tetangga, memintaku memboncengnya dengan motorku untuk keliling kompleks lalu dia akan berpegangan pada pundak dan prasangkaku akan menjalar kemana-mana, dan ia pernah meminta izin untuk meraba wajahku supaya ia mendapat gambaran bagaimana rupaku.

Terparah adalah dia meminta tolong untuk memutarkan film dan ditemani nonton. Fyi aja, seorang tunanetra mengandalkan indra pendengarnya untuk menonton film atau televisi. Namun sebelumnya dia menyuruhku untuk menutup semua pintu dan kelambu. Aku kaget banget pas buka kemasan kaset DVD. Rupanya itu adalah kepingan film porno.

Aku cari-cari alasan untuk menggagalkan idenya dengan cemas dan mulai nggak nyaman. Aku beralasan audionya bermasalah sehingga suaranya nggak muncul. Bapak kosku mungkin kecewa, tetapi aku cukup lega bisa kabur ke kamar dengan alasan yang masih masuk akal sehingga nggak menyinggung perasaannya.

Aku mulai jaga jarak dengan bapak kosku dan itu jadi motivasi tersendiri buat menyelesaikan skripsi supaya bisa segera cabut dari kosan itu usai wisuda.

Aku menjaga perasaan terlalu banyak orang. Aku menutupi tingkah bapak kosanku itu dari keluargaku. Aku juga nggak ada nyali untuk mengadu ke asisten rumah tangga apalagi teman-temanku. Ternyata menyimpan rahasia itu malah justru bikin racun di hidupku.

Aslinya, aku takut buat menceritakan beberapa pengalaman itu ke orang-orang terdekat, termasuk keluarga dan sahabat. Aku pernah mencoba buat cerita sekali tapi responsnya seperti jijik padaku. Padahal dia adalah orang yang betul-betul dekat denganku. Bisa dibilang sahabat.

“Kenapa kamu mau aja digituin? Kenapa kamu nggak melawan? Kok aku jadi gimana gitu sama kamu.” tanggapnya. Aku ingin sekali melawan. Aku ingin sekali berontak. Tapi itu susah buatku. Aku nggak tau harus gimana saat itu. Aku malu banget buat mengadu. Aku juga nggak mau bikin orang tua khawatir dan malah melarangku buat ini dan itu.

Tapi menimbun banyak hal seperti ini juga menjadi beban dalam hidupku. Sampai saat ini aku masih marah dengan diri sendiri dan jijik. Tapi kan semua itu udah terlanjur terjadi dan nggak bisa aku apa-apakan lagi?

Sisa ketakutan itu masih ada. Aku nggak bisa dipegang atau disentuh sembarangan oleh orang yang masih kuanggap asing atau nggak akrab-akrab banget, khususnya laki-laki. Cerita kayak gini juga sebagai upayaku untuk menerima ketidaksempurnaan diriku. Terima kasih ya telah bersedia mendengarkan ceritaku tanpa menghakimi.

Pesan dari korban untuk semuanya, jangan segan untuk melawan ketika dilecehkan. Bila kamu terlanjur menjadi korban, maafkan dan terimalah dirimu. Ingat, ini semua bukan salahmu dan kamu enggak sendirian.

Pelecehan seksual sebenarnya bisa terjadi pada semua gender, baik perempuan dan laki-laki. Bentuknya pun bermacam-macam. Selengkapnya tentang pelecehan seksual bisa kamu telusuri di mesin pencarian.

7 thoughts on “Cerita Pelecehan Seksual terhadap Perempuan”

  1. Aku yakin Ara orang yang kuat dan akan menerima, memaafkan dirinya sendiri karena itu bukan salahnya. Kadang, ada kisah yang tak perlu diceritakan pada orang, cukup dituliskan agar perasaan lebih lega. Di luar sana, ada banyak Ara yang memiliki kisah serupa dan tak pernah berani mengungkapkannya. Terima kasih sudah menulis ini, mbak ❤️

  2. Yaampuuun aku merinding baca ceritanya.

    Ara strong dan baik banget sih. Semoga skrg ara dikelilingi org baik dan dijauhin dr orang orang yg punya niat jelek kyk yang udah udah.

    1. Amin… Ara pasti seneng baca komentar positif dari kamu. Thank you, Nadia! Take care of yourself * hug *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *