Senja di Sumberagung, Gandusari - Kab. Blitar. Dokumen pribad Rizky Almira

Kamu Nggak Capek?

Jurnal
Capek sih tapi ya gimana lagi…

“Kamu nggak capek?” tanya Bapak yang sedang rebahan di ranjang kamarnya.

“Engg… Enggak kok, Pak. Aku berangkat dulu ya.” jawab saya sambil pamit dan menenteng totebag.

Sejujurnya, saya agak heran Bapak bertanya seperti itu. Seringnya Ibu yang bertanya, “Kamu nggak capek?”. Bapak saya adalah tipe pendiam bila berhadapan dengan saya. Iya, baru berani bawel tuh di belakang dan Ibu sebagai teman keluh kesahnya bila punya unek-unek pada saya.

Siang itu baru banget saya masuk rumah, namun harus bergegas untuk pergi lagi. Latihan Muay Thai bersama Bawor, teman sekaligus tetangga saya. Pulang kerja sekitar jam 1 siang, lalu pergi latihan dan pulangnya sore. Hari-hari sebelumnya malah tidak ada jeda untuk istirahat.

Hari Rabu kemarin, tepatnya tanggal 17 Juli 2019, ada upacara 17an rutin yang dilaksanakan di kantor Kecamatan Gandusari. Sebagai perangkat desa, saya wajib ikut menjadi peserta upacara. Usai kegiatan masih harus ikut koordinasi peserta kirab Hurub Hambangun Praja Kab. Blitar. Tak langsung pulang, saya dan rekan kerja belanja ATK (alat tulis kantor) di kota sekalian ke kantor BPJS Ketenagakerjaan untuk pembayaran tagihan bulanan.

Begitu sampai di rumah, saya hanya sempat mandi dan harus bersiap kembali untuk menghadiri rapat. Jobdesk tambahan saya sebagai Kasi Pemerintahan menyiapkan segala sesuatu untuk kegiatan malam itu, khususnya makan dan minum. Jadi saya harus berangkat lebih awal. Rapat pun molor sehingga selesainya pada jam 11 malam. Kalau nggak langsung tidur, besoknya pasti kewalahan karena kurang istirahat.

Nggak cuma sekali dua kali hari-hari saya padat seperti itu. Pernah juga di bulan lalu, meskipun hari Sabtu tapi tak merasakan nikmatnya hari libur. Usai menjadi babu di rumah, saya berniat nonton di bioskop, untuk mengisi kembali tenaga dan mood. Sebelumnya mampir ke PMI Kab. Blitar dan tak ada niat untuk donor darah, seringnya ditolak karena tensi tak pernah memenuhi standar. Eh, nggak tahunya tensi saya di atas 110 dan HB saya cukup bagus. Kelar nonton tidak langsung pulang karena harus bertemu dengan klien.

“Kalau punya kegiatan tuh mbok ya sing bertanggung jawab.” sambut Ibu dengan nada ketus tanpa menatap saya sedikit pun.

Mungkin itu bagi kamu biasa saja, tapi bagi saya sebaliknya. Beliau tidak berkata dengan nada marah atau membentak, namun ngena langsung. Umpama kalimat itu pisau, Ibu melemparnya tepat di jantung saya. Jlebbb…

Salah saya juga sih, ada kegiatan rapat di kantor selepas maghrib tapi jam 6 sore saya belum nongol di rumah. Sedangkan Bapak kandung, notabene Kepala Dusun di lingkungan rumah saya, telah menunggu cukup lama. Wqwq. Salah saya kurang bisa mengatur waktu dengan baik.

Resiko saya sebagai perangkat desa yang harus siap bila akhir pekannya diisi dengan kegiatan untuk kepentingan orang banyak. Termasuk ada jadwal rapat di malam hari, karena jam kerja saya di siang hari hanya mulai pukul 8 pagi sampai 1 siang. Selain itu saya juga punya kerjaan sampingan yang kadang mengharuskan saya pergi ke kota untuk bertemu klien atau sekadar menghadiri undangan.

Di luar itu, saya bepergian untuk menemani atau mengantar Ibu atau keluarga yang lain, khususnya adik kandung yang tahun ini mulai masuk di sekolah menengah atas. Ia memilih sekolah di kota dan indekos. Sebagai anak sulung, saya biasanya menggantikan Bapak kandung bila adik membutuhkan sesuatu namun beliau sedang berhalangan.

Capek sih tapi ya gimana lagi…

“kalau ada waktu sempatkan istirahat..” pesan Ibu kandung lewat whatsapp.

Kira-kira 2 pekan lalu saya sempat sakit flu karena daya tahan tubuh drop sedangkan aktivitas dan pikiran sedang padat merayap. Tapi saya nggak berani ngeluh ke Ibu. Nggak mau aja kalau setelah ngeluh malah nggak boleh ini itu, pergi kesana kemari. Jadi sok kuat ya… Saat benar-benar capek, saya cuma bisa menangis di kamar. Paling sambatnya di sini –pada kamu yang membaca tulisan ini. Ehe.

Tantangan terberat saya adalah ketika pengin istirahat tapi ada ajakan dari teman untuk main atau sekadar bertemu untuk ngopi bareng melepas penat. Mau menolak kok ya sulit, tapi kalau ngiyain jadinya nggak jadi istirahat dong?

Saya insya Allah bisa menghadapi ini semua, selama saya bisa meluangkan waktu untuk sendirian, berdiam diri di rumah untuk baca buku, memasak, atau tidur. Untungnya di tengah kegiatan ada sesuatu yang bisa menaikkan semangat, seperti senja yang saya lihat kemarin sore, gelak tawa dengan teman, mengisi perut dengan makanan favorit.

Jadi tergoda untuk tanya pada matahari tiap sore, kamu nggak capek? Dia tidak kenal istirahat. Selesai menyinari bumi belahan satu, dia masih harus berjalan demi belahan satunya lagi. 🙂

5 thoughts on “Kamu Nggak Capek?”

      1. hahahaa , tenan tapi seng tak semangati ❤️

        Aku lagi nek SMA 3 mbak dolen haha, biasa anak kambil 😂

        saman ? mesti nek kasur tok wkwkwwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *