a bucket of beetles. foto: Papermoon Puppet Theatre

Nonton Pertunjukan Papermoon Puppet Theatre secara Virtual

Jurnal Ulasan Uncategorized

Pementasan A Bucket of Beetles ~

Pernah dengar Papermoon Puppet? Atau pernah mendengar sosok Ria Papermoon? Belum ya? Umm, kalau video klip Manusia Hebat yang dinyanyikan Tulus, tau kan? 😬

Boneka-boneka kertas yang pentas pada video klip lagu Tulus tersebut adalah Papermoon Puppet yang dilahirkan oleh Mbak Ria di Yogyakarta. Papermoon Puppet ini nggak cuma kondang di Indonesia lho, tapi juga di luar negeri. Studio mereka berada di Kasihan, Bantul.

Nonton pertunjukan Papermoon Puppet adalah dambaan saya sejak masih tinggal di Yogyakarta tapi baru kali ini keinginannya terwujud. Pasalnya, tiket untuk nonton mereka selalu ludes beberapa jam aja. Jadwal pementasan pun terbatas, maksudnya nggak selalu ada.

Ndilalah, kok ya dapat email dari Parjarmerah tentang jadwal pertunjukan pertama Papermoon Puppet secara online. Menarik…

Saya pun langsung memesan tiket dan memilih jadwal pementasan pada Sabtu, 1 Agustus 2020, pukul 17.00 WIB sampai selesai. Pementasan bisa dinikmati via Google Meet dan nggak gratis. Harga tiketnya saat itu 100ribu rupiah per akun.

Pengalaman nonton Papermoon Puppet Theatre. Dokumentasi pribadi Rizky Almira
Pengalaman nonton Papermoon Puppet Theatre. Dokumentasi pribadi Rizky Almira

Pertunjukan kali ini sangat spesial karena karya yang diangkat berdasarkan cerita yang dikisahkan oleh Lunang, bocah berusia 5 tahun, putra semata wayang Mbak Ria Papermoon. Durasi pementasan sekitar 2 jam, itu sudah termasuk sesi tanya jawab antara artist dan penonton.

Pertunjukan Papermoon Puppet kali ini bercerita soal apa?

A Bucket of Beetles ini menceritakan tentang hubungan antara makhluk hidup dan alam dari kacamata seorang anak yang berusia 5 tahun.

Saya ceritain secara singkat ya, a bucket of beetles ini menyinggung tentang isu lingkungan. Makin banyaknya hutan yang beralih fungsi mengancam keeksisan kumbang badak dan satwa lainnya. Di samping itu, juga menyinggung soal perburuan kumbang badak secara ilegal untuk dijual sebagai hewan peliharaan.

Mengapa Papermoon Puppet melakukan pertunjukan secara virtual?

Mbak Ria Papermon menjelaskan bahwa a bucket of beetles ini bukan sebuah pementasan darurat karena adanya pandemi Covid-19. Panggung pertunjukan inilah yang membuat Mbak Ria dan kawan-kawannya merasa ‘pulang ke rumah’. Saking lamanya mereka nggak bisa melakukan pementasan sejak adanya pandemi Corona.

Selain itu, Mbak Ria ingin menawarkan alternatif pengalaman lain untuk menikmati Papermoon Puppet Theatre yakni secara virtual dengan teknis yang agak berbeda.

Memangnya apa yang beda dari pertunjukan Papermoon Puppet Theatre secara langsung dan virtual?

Begini menurut penjelasan Mbak Ria Papermoon, pertunjukan Papermoon Puppet Theatre bila ditonton secara langsung, penonton bebas untuk menentukan fokus saat pertunjukan berlangsung.

Sedangkan pertunjukan Papermoon Puppet Theatre secara virtual, Mbak Ria Papermoon dan kawan-kawan menyuntingnya dan adanya teknis videografi akan memudahkan penonton untuk fokus pada detail tertentu.

Keduanya nggak bisa dibandingin lebih bagus yang mana karena masing-masing ada plus minus dan semua balik ke selera penonton.

Apa yang menarik dari Papermoon Puppet Theatre?

Menurut saya, Papermoon Puppet Theatre ini bukan sekadar pertunjukan boneka. Pertama, pertunjukan ini memang menggunakan medium boneka yang terbuat dari kertas tapi setiap gesturnya berbicara.

Kedua, meskipun pertunjukan ini tidak menggunakan dialog atau bahasa tapi ceritanya bisa saya terima dengan baik. Ya semua karena musik dan properti pementasan yang sangat mendukung.

Makanya setiap kali ada pertunjukan Papermoon Puppet Theatre ini, setiap penonton tidak diperkenankan untuk merekam selama pertunjukan berlangsung. Hal ini supaya penonton lebih fokus dan feel-nya dapet.

“Cukup rekam dengan kedua mata dan ingatan,” kata Mbak Windy Ariestanty.

Berapa lama Papermoon Puppet Theatre dan Patjarmerah menyiapkan pementasan virtual ini?

Pas sesi tanya jawab, ada salah satu teman saya, Rintri Pardede, bertanya pada Mbak Ria Papermoon.

“Persiapannya kurang lebih 1 bulan,” jawab Mbak Ria Papermon sambil tertawa.

Persiapan pertunjukan ini sekitar satu bulan. Properti yang dipakai seperti wayang kertas bentuk kumbang dan lainnya itu berdasarkan semua yang digambar oleh Lunang. Mereka keren banget kan?

Di akhir pertunjukan, Mbak Ria mengenalkan semua tim dan back stage. You know, timnya kecil dan terdiri dari 6-8 orang. Pokoknya nggak sampai 10 orang yang dikenalkan saat itu. Terdiri dari artist, videografer dan musik editor.

***

Pertunjukan ini meskipun dikisahkan oleh anak kecil berusia 5 tahun tapi sebenarnya ceritanya tidak untuk anak-anak. Pementasan ini dikhususkan untuk orang dewasa supaya nilai-nilai yang disampaikan lewat cerita bisa ditangkap.

Begitulah pengalaman saya menonton pementasan Papermoon Puppet Theatre, bisa saja cerita ini biasa saja buat kamu, tapi kalau nonton langsung mungkin kamu akan sependapat dengan saya. Hahaha. 😆

Ini adalah pengalaman pertama nonton tapi kemungkinan nggak bakalan jadi pengalaman terakhir. Saya masih ingin nonton Papermoon Puppet Theatre secara langsung. Semoga terwujud! Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *