Close
Sarapan Soto Seger Hj. Fatimah di Boyolali
Soto Seger Hj. Fatimah di Boyolali. Dokumentasi pribadi Rizky Almira

Sarapan Soto Seger Hj. Fatimah di Boyolali

Ingat Boyolali, ingat sapi-sapi.
 

Tepat sebulan yang lalu –kurang 1 hari lagi sih, tapi nggak apa-apa–, saya diajak sarapan soto seger Hj. Fatimah di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Saya, Mbak Mel, dan Mbak Jay, sepakat memilih sarapan kesana karena lokasinya searah dengan pintu masuk tol terdekat yang akan membawa kami ke Semarang.

“Kita nanti sarapan di warung Hj. Fatimah yang pertama aja ya.” ajak Mbak Mel.

“Siap… siap…” saya manut-manut saja.

“Eh, Kik, sebenarnya soto seger ini ada di Yogyakarta juga lho, di Deresan.”

“Ya ampun… kirain cuma ada di Boyolali aja.” tanggap saya agak kecewa.

“Apa kita putar balik aja makan di Deresan?” canda Mbak Mel.

“Enggak, Mbak, nggak perlu. Sarapan yang di Boyolali aja. Hahahaha.”

Ya kali sudah hampir tiba di Boyolali belain putar balik demi sarapan soto yang ada di Deresan. Hahahaha. Mbak Mel dan Mbak Jay bercandanya suka kebablasan. Warung soto seger Hj. Fatimah yang sedang kami tuju ini ada di depan Satlantas Boyolali dengan ciri khas warungnya berkonsep joglo. Untuk lokasi detailnya bisa cari di Gmaps dengan kata kunci ‘Soto Seger Hj. Fatimah Depan Satlantas’ atau ‘Satlantas Boyolali’.

Sebenarnya warung soto seger Hj. Fatimah ada beberapa dan tersebar di beberapa titik seantero Boyolali. Mengapa Mbak Mel mengajak kami makan di warung yang ada di depan Satlantas? Karena selain tempatnya yang lebih nyaman, di sana lauk pendamping seperti sate-satean dan gorengan lebih lengkap.

Sekitar akhir tahun 2018 lalu, saya pernah ada keinginan buat mampir sarapan di warung Hj. Fatimah. Saat itu saya sedang road trip dari Semarang menuju Surakarta dengan roda dua. Sayangnya keinginan itu patah begitu saja lantaran keramaian warungnya yang nggak biasa padahal masih pagi. Jiper duluan mau mampir sendirian. 😀

Eh, nggak nyangka setahun kemudian Mbak Mel dan Mbak Jay mengajak saya buat sarapan soto seger Hj. Fatimah di Boyolali. Kami pun menuju meja kosong yang ada di sudut warung. Saya memesan soto seger komplit, sementara Mbak Jay dan Mbal Mel memesan nasi setengah dan tanpa nasi.

“Kamu minumnya apa, Kik?” tanya Mbak Jay.

“Mas, ini apa namanya?” tanya saya pada mas pelayan sambil menunjuk satu gelas yang menarik bagi saya.”

“Oh itu namanya teh kampul.”

“Okay, saya pesan itu satu.”

Sebelumnya saya pernah menulis tentang teh kampul khas Solo lho di sini, barangkali kamu kepo apa itu teh kampul. Sembari menunggu soto diantar ke meja kami, saya memperhatikan Mbak Jay yang mulai kalap nyomot sate ini, sate itu. Saya hanya geleng-geleng kemudian beberapa menit kemudian ikut nyomot (lho? Hahahaha).

Soto Seger Hj. Fatimah di Boyolali. Dokumentasi pribadi Rizky Almira
Soto Seger Hj. Fatimah di Boyolali. Dokumentasi pribadi Rizky Almira

Saya ambil tempe goreng yang rasanya terbuat dari entah itu kedelai atau kacang-kacangan yang lain dan rasanya sedikit berbeda. Teksturnya lebih keras dari tempe kedelai biasanya. Saya bertanya ke Mbak Mel tapi kurang puas dengan jawabannya. Akhirnya saya mencari tahu lewat google tentang bahan tempe Boyolali itu.

Alhasil, saya menemukan bahan dari tempe Boyolali yakni kacang tolo. Sekilas bentuknya sama dengan kacang kedelai tetapi ukurannya lebih kecil dan hanya ditemukan di daerah-daerah tertentu. Di Blitar sini sudah jarang ditemukan di pasar atau warung yang menjual kacang tolo.

Soto Seger Hj. Fatimah di Boyolali. Dokumentasi pribadi Rizky Almira
Lentho. Dokumentasi pribadi Rizky Almira

Makanan kedua adalah lento atau lentho –saya kurang tau ejaan yang benar untuk makanan ini. Lentho ialah salah satu kuliner khas Boyolali yang berbahan kacang tolo dengan campuran parutan singkong dan kelapa muda yang dicampur dengan bumbu halus yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, ketumbar, kencur, duan jeruk purut, dan garam. Gimana rasanya? Gurih dan crunchy dari kacang tolonya.

Lentho ini mirip dengan kuliner yang ada di Jawa Timur, namanya entho-entho atau mendol. Bedanya adalah bahannya menggunakan tempe kedelai yang hampir atau bahkan sudah basi. Bumbu juga hampir sama, hanya saja masyarakat Jawa Timur gemar menambahkan cabai rawit biar lebih greget.

Soto Seger Hj. Fatimah di Boyolali. Dokumentasi pribadi Rizky Almira
Sate kikil. Dokumentasi pribadi Rizky Almira

Makanan ketiga yang saya coba di warung Hj. Fatimah adalah sate kikil. Mulanya saya ragu mau ambil dan incip tetapi melihat Mbak Jay kok kayaknya lahap banget ya. Saya pun memberanikan diri buat ambil setusuk.

Rasanya kenyal dan ada bagian yang lembek banget. Bumbunya manis, diolah pakai bumbu bacem kali ya? Nggak ada pedas-pedasnya sama sekali. Sate ini enak kok namun kurang cocok dengan selera saya yang memang nggak begitu suka kulit apalagi tidak pedas. 😀

Soto Seger Hj. Fatimah di Boyolali. Dokumentasi pribadi Rizky Almira
Sosis Solo. Dokumentasi pribadi Rizky Almira
Soto Seger Hj. Fatimah di Boyolali. Dokumentasi pribadi Rizky Almira
Sate uritan. Dokumentasi pribadi Rizky Almira

Selain ketiga makanan itu, masih ada banyak pilihan lauk yang tersaji di meja. Mulai dari sate ampela, sate usus, sate uritan, dan masih banyak lagi. Hati-hati saja kalau kamu sedang makan di sini. Kalau nggak pintar ngerem bisa bengkak tagihan dan kolesterolnya. Hahahaha.

Soto Seger Hj. Fatimah di Boyolali. Dokumentasi pribadi Rizky Almira
Soto Seger Hj. Fatimah di Boyolali. Dokumentasi pribadi Rizky Almira

Akhirnya, semangkok soto yang diantar pun datang. Porsinya pas, nggak kurang dan nggak berlebihan. Cocok kalau disantap pas sarapan. Kuahnya bening, segar seperti judulnya. Sekilas malah mirip soto. Ehe. Saya perhatikan sih daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah tuh kuliner sotonya bening-bening. Ya nggak sih? Atau cuma perasaan saya doang.

Soto seger ini menggunakan daging sapi ya karena memang di Boyolali ini produsen utama susu dan daging sapi untuk kawasan Jawa Tengah. Kesan pertama saya makan soto seger ini sedap meski disantap tanpa kecap dan sambal. Gurih kuahnya pas, nggak asin atau enek seperti kebanyakan micin. Mantap lah!

Jujur, saya rada deg-degan saat di kasir. Kirain tagihannya bakal habis banyak. Hahaha. Ternyata seporsi soto besar, teh kampul, gorengan, dan sate kikil habis 19ribu saja coy. Seporsi soto besar itu harganya 9ribu. Minumnya 3ribu, gorengan 1ribu/biji, dan satenya 6ribu/tusuk. Alhamdulillah, kenyang dengan harga yang masih terjangkau.

Recommended deh kalau dijadikan tempat transit buat sarapan bersama kawan atau keluarga. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *