2 hari jalan-jalan di Blitar. Dokumen pribadi Rizky Almira

Contekan Itinerari 2 Hari Jalan-Jalan di Blitar

Blitar Destinasi Kuliner Perjalanan
Fresh from the oven. Semoga berfaedah! 🙂

Pada Jumat malam kemarin, 13 September 2019, tidur saya berasa kurang nyenyak. Deg-degan, saya nggak sabar menunggu Sabtu pagi. Pasalnya, saya kedatangan dua orang tamu dari Yogyakarta. Dulu kami pernah jadi teman sekantor dan satu tim di Kulina. Mereka adalah Dinka dan Lail.

Sayangnya, masa cuti Dinka tahun ini sudah habis..bis. Bisa dipastikan Dinka nggak bisa bolos barang sehari. Sehingga libur akhir pekannya harus bisa dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Dinka dan Lail memesan tiket kereta jauh-jauh hari. Itinerari pun telah siap dan sudah dikirim pada saya. Gils, salut sama adik-adik ini yang merencanakan liburan dengan sangat apik.

Selain mau menyontek itinerari mereka, sebenarnya tulisan ini sebagai cara saya menghibur diri –akibat post-travel syndrome–dengan menceritakan ulang pengalaman jalan bareng mereka selama dua hari kemarin. Sungguh mengesankan, sayang aja kalau nggak saya bagi di sini.

Hari Pertama

Kereta Kahuripan yang mereka tumpangi tiba di Stasiun Blitar pukul 08.31 WIB. Saya terlambat beberapa menit. Mereka udah sampai duluan. Ohya, ada kejadian yang memalukan banget nih setelah ini. Saking excited akan bertemu Dinka dan Lail, saya jadi sedikit kehilangan fokus.

“Laiiiil!!!” Teriak saya.

“Laiiiilll….” sapa saya pada seorang perempuan berhijab dan membawa koper berwarna kuning.

“Kok Lail sendirian ya, mana Dinka?” batin saya sambil celingukan.

Saya berjalan mendekati si perempuan itu. “Lhoh, Lail sekarang kok jadi lebih pendek ya?” tanya saya dalam hati. Alisnya juga agak berbeda. Saya mulai agak ragu.

“Kamu Lail kaan?” tanya saya sambil tertawa dengan menunjuk-nunjuk Bakpia Kukus dalam tas plastik yang ia letakkan di atas koper.

Perempuan itu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bukan, Mbak.” jawabnya lirih karena suaranya tertahan masker.

“Oh bukan yaa?” saya sambil menawan tawa sekaligus rasa malu.

HAHAHAHA. Rupanya saya menegur orang yang salah. Nggak berapa lama, Dinka dan Lail pun jalan kaki menuju pintu keluar stasiun. Kami pun tertawa terpingkal-pingkal setelah saya menceritakan kejadian barusan.

Sarapan di Soto Daging Bok Ireng

 

2 hari jalan-jalan di Blitar. Dokumen pribadi Rizky Almira
Sarapan soto Bok Ireng di Blitar. Dokumen pribadi Rizky Almira

 

Saya langsung ajak mereka untuk sarapan di warung soto Bok Ireng, lokasinya ada di Jalan Kelud – Kota Blitar. Soto di sini selalu direkomendasikan oleh warga lokal dan jadi salah satu kuliner andalan di Blitar. Ciri khas dari soto di sini adalah dimasak dalam kendil dan disajikan dalam mangkok kecil.

Seporsi soto harganya 10ribu IDR dan nampak seiprit tapi cukup mengenyangkan kok untuk sarapan. Saya suka makan soto ini sejak masih duduk di bangku SMP. Saat itu harganya masih di bawah 5ribu IDR. Tante lah yang mengajak pertama kali makan di sini. Semenjak itu, saya jadi sering makan di warung soto ini.

Ziarah ke Makam Bung Karno

 

Es drop cap doop dan Pak Sukarji, si penjual yang asyik. Foto oleh Dinka
Es drop cap doop dan Pak Sukarji, si penjual yang asyik. Foto oleh Dinka

 

Kami siap mengitari kompleks makam Bung Karno. Di sana nggak cuma ada kuburan Bung Karno dan kedua orang tuanya. Ada galeri foto-foto yang menceritakan perjalanan hidup Presiden RI Ke-1 tersebut. Sejak ia kecil, sekolah di HBS Surabaya hingga ia menghembuskan napas terakhir. Masuk ke galeri ini gratis kok.

Bergeser ke area makam, baru deh kami diharuskan membayar tiket masuk sejumlah 3ribu IDR per kepala. Tak lupa, kami membeli 3 kantong plastik bunga tabur seharga 10ribu IDR. Saking ramainya peziarah, pihak pengelola memberi batasan waktu untuk berdoa. Ya, supaya tiap rombongan peziarah punya kesempatan untuk mendekat dengan pusara sekaligus menabur bunga di atasnya.

Kelar ziarah, kami menyusuri jalur ke pintu keluar yang berkelok-kelok dan dikepung toko penjual oleh-oleh yang hampir semuanya menjual barang yang sama. Panas dan sesak, itu yang saya rasakan. Untungnya, Pak Sukarji –penjual es Doop asli Blitar– yang mangkal di area luar makam menyetabilkan mood saya dengan peringainya yang lucu dan es doop rasa kacang ijo yang enak.

Beliau biasa mangkal di makam Bung Karno dan PIPP dengan sepeda onthel. Ciri-cirinya, Pak Sukarji suka mengenakan topi fedora dan menggantungkan radio lawas bermerek National di sepedanya. Kalau menjumpai penjaja es Doop dengan ciri khas di atas, jangan lupa sapa dan beli es-nya. Cukup 4ribu IDR doang per tusuk.

Mampir di Istana Gebang

2 hari jalan-jalan di Blitar. Dokumen pribadi Rizky Almira
Bergaya di depan koleksi mobil Istana Gebang Blitar. Dokumen pribadi Rizky Almira

Sekitar 2-2,5 km dari Makam Bung Karno, ada Istana Gebang yang dulunya adalah rumah kediaman kakak kandung Bung Karno beserta keluarganya. Menurut cerita, Bung Karno dulu suka menginap di sini bila sedang short escape ke Blitar. Untuk masuk kesini sama sekali nggak bayar. Kemarin, saya nggak ditarik uang parkir. Jadi saya nggak mengeluarkan uang sepeser pun.

Di sini, kami bisa menengok kamar yang dulu dipakai bobo ganteng Bung Karno semasa muda dan sudah berkeluarga. Istana Gebang ini rumah dengan gaya arsitektur Eropa dengan ciri khas bangunan induk (utama) terpisah dari bangunan dapur. Kami paling suka nongkrong di terasnya yang isis dan teduh banget.

Makan siang di Bakso Sapi dan Mie Ayam Gemini

Bakso Sapi dan Mie Ayam Gemini Blitar. Dokumen pribadi Rizky Almira
Bakso Sapi dan Mie Ayam Gemini Blitar. Dokumen pribadi Rizky Almira

Saya memberi opsi makan siang pada Dinka Lail antara lain gado-gado, bakso, atau rujak cingur. Pilihan mereka jatuh ke Depot Gemini. Mereka tergiur makan di sana dengan alasan ada menu sate bekicot atau 02. Ini sih memang tempat makan langganan saya.

Rasa dari bakso sapi dan mie ayam Gemini nggak diragukan. Senangnya lagi, Dinka dan Lail ikut mengamini. Mereka cocok dengan kuah baksonya yang sangat menyegarkan dan tetap pas disantap di siang hari. Momen yang paling saya tunggu adalah saat mereka mencicipi sate bekicot. Hahaha. Saya ingin mereka tau kalau sate bekicot nggak menggelikan seperti yang orang-orang bayangkan.

Ikut memeriahkan Serang Culture Festival ke-5 dengan melepas tukik

2 hari jalan-jalan di Blitar. Dokumen pribadi Rizky Almira
Tukik saya, panggil dia Sayonara. Dokumen pribadi Rizky Almira

Saya baru ingat bahwa melepas tukik menjadi salah satu bucket list impian. Nggak perlu jauh-jauh ke Banyuwangi atau kota lain untuk ikut pelepasan tukik, ternyata di Pantai Serang Kab. Blitar pun bisa. Pas banget lah ada Dinka dan Lail yang sengaja main ke Blitar pas ada Serang Culture Festival ke-5. Salah satu rangkaian acaranya ada pelepasan tukik.

Awalnya Dinka dan Lail berminat banget melepas tukik, tapi mendadak nggak ingin karena geli dan takut digigit. Sengaja saya membeli 2 kupon seharga 50ribu IDR yang masing-masing bisa ditukar dengan tukik. Satu kupon untuk saya, sisanya saya berikan pada mereka. Acara pelepasan tukik dimulai sekitar pukul 4 sore diikuti oleh puluhan peserta.

Ohya, selama Serang Culture Festival ini berlangsung, tiket masuk ke area pantai Serang tarifnya 15ribu per orang dan belum termasuk tarif parkir ya. Untuk mobil dikenakan tarif 10ribu IDR. Usai pelepasan tukik sebenarnya masih ada pertunjukan jazz, namun kami memilih untuk tancap gas karena takut pulang kemalaman.

Makan malam dengan ayam lodho di Wlingi

2 hari jalan-jalan di Blitar. Dokumen pribadi Rizky Almira
Makan malam Ayam Lodho Kantor Pos Wlingi. Dokumen pribadi Rizky Almira

Perjalanan menuju Wlingi dari Pantai Serang sekitar 1,5 jam gitu tapi kami transit di SPBU Talun untuk solat. Lalu lanjut mampir ke Kantor Pos Wlingi untuk makan malam di warung langganan keluarga saya.

Di sini, ayam lodhonya juara. Saya paling suka menyantapnya dengan nasi gurih hangat, tak lupa dengan urap (sayur yang direbus dan diurap dengan parutan kelapa). Jika makan beramai-ramai di sini, paling enak sih pesan menu yang berbeda. Ada yang memesan ayam lodho goreng dan berkuah. Jadi bisa saling incip gitu lho.

Harganya memang lumayan mahal, sekitar 25ribuan per porsi, tapi imbang lah dengan cita rasanya. Lagian ayam yang digunakan adalah ayam kampung jadi wajar saja kalau agak mahal.

Hari Kedua

Di itinerari Dinka dan Lail, seharusnya Minggu pagi kami sarapan nasi pecel di Gurit, Wlingi. Eh tapi Ibu saya berencana memasak pecel dengan lauk tahu dan tempe goreng untuk kami sarapan. Nggak jadi sarapan di luar deh. Sekitar pukul 6 pagi gitu saya sempat mengajak mereka buat jalan-jalan pagi. Sayangnya Kelud dan Kawi sedang tertutup kabut.

Santuy di Kampung Coklat

2 hari jalan-jalan di Blitar. Dokumen pribadi Rizky Almira
Menghias coklat di Kampung Coklat Blitar. Dokumen pribadi Rizky Almira
2 hari jalan-jalan di Blitar. Dokumen pribadi Rizky Almira
Kasih makan ikan koi. Dokumen pribadi Rizky Almira

Sekitar pukul 9 pagi, kami sudah sampai di Kampung Coklat. Yay! Dari dulu tiket masuk kesini masih 5ribu IDR per orang. Semoga ya nggak naik sampai beberapa tahun ke depan. Hahaha. Kampung Coklat makin lama punya fasilitas yang makin lengkap dan sengaja dibuat untuk memanjakan pengunjung dari kalangan balita sampai lansia.

Fasilitasnya lengkap banget, mulai dari cooking class, food court yang luas, aneka permainan, kolam renang, tempat pemancingan, musola yang teduh dan dikelilingi kolam ikan koi, hingga pusat oleh-oleh. Kami sempat ikut cooking class dengan bayar 7ribu IDR per orang untuk bisa hias coklat sendiri. Spot favorit saya sih di musola sebelah barat, tidak jauh dari hall atau gedung serbaguna. Bisa santuy sambil minum es coklat.

Cukup dengan 2ribu IDR, kita bisa membeli sebungkus pakan ikan. Kita bisa duduk santai di teras musola sambil ngasih makan ikan koi yang ginuk-ginuk. Mereka sangat jinak dan mudah bergerombol jika menangkap sinyal bahwa ada pakan yang mengambang di permukaan air. Sangat menyenangkan berada di sini.

Angin yang sepoi-sepoi, gemericik air, dan ikan-ikan koi yang berlomba-lomba melahap sebutir pelet. Aseli, damai banget.

Berburu kuliner ndeso di Warung Mak Ti

2 hari jalan-jalan di Blitar. Dokumen pribadi Rizky Almira
Makan siang di warung Mak Ti. Dokumen pribadi Rizky Almira

Sebenarnya ini ide saya dan nggak masuk dalam itinerari Dinka dan Lail. Saya mengajak mereka untuk incip masakan ndeso Mak Ti yang lokasinya ada di Dusun Nglaos, Desa Jatinom Kec. Kanigoro. Banyak orang yang bercerita bahwa iwak kali masakan Mak Ti endolita. Ibu saya termasuk orang yang sering bercerita tentang Mak Ti.

Lokasinya ndlesep, benar-benar masuk ke gang-gang cilik. Untung ada Gmaps, jadi nggak susah nyari tempatnya.

“Buk, bayarnya di mana?” tanya saya.

“Bayarnya nanti ajaa, makan dulu aja sana, mung sepuluh awu ae. Mangan-mangan kono disik ae, timbangane ora dadi daging.” Mak Ti menjawab dengan nada guyon.

Intinya sih kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, makan aja duluan, bayarnya nanti kalau udah selesai makan. Saya mengambil sedikit nasi putih dan jagung, menimbunnya dengan oseng kacang panjang, sambal terong, sambal tomat, dan beberapa ikan (semacam mujair) yang digoreng kering.

Cerita dari orang-orang ternyata nggak bohong. Renyahnya ikan goreng Mak Ti masih terngiang sampai sekarang. Uniknya, makan di sini cukup bayar 10ribu IDR per porsi dan bisa ambil lauk sepuasnya. Ditambah dengan sikap Mak Ti yang tetap ramah hadapi pembeli, jadi nilai plus di mata kami. Ya pantas saja kalau warung ini nggak pernah sepi pelanggan.

Elus-elus anak rusa di Penangkaran Rusa Maliran

2 hari jalan-jalan di Blitar. Dokumen pribadi Rizky Almira
Kasih makan rusa. Dokumen pribadi Rizky Almira

Terakhir kesini sekitar tahun 2016 dan belum ada Kesambi Trees Park. Dulu penangkaran rusa ini kondisinya kurang layak namun seiring berjalannya waktu ada perbaikan dan pembangunan. Tempat wisata ini jadi lebih nyaman karena ada berbagai fasilitas, mulai dari warung makan, musola, camping area, spot untuk swafoto, dan masih banyak lagi.

Kemarin tuh tiket masuk kesini kalau enggak salah sekitar 30ribuan untuk bertiga. Waduh, saya lupa. Hahaha. Di sini di sediakan pakan rusa dengan harga 2ribu IDR per ikat. Pakannya ada sayur kangkung dan kacang panjang. Asyiknya di sini, pengunjung diperbolehkan masuk ke dalam kandang rusa. Dinka dan Lail keasyikan elus-elus anak rusa. Di sini juga cocok buat piknik, sayang banget kami nggak bawa tikar untuk bersantai ria.

Mampir alun-alun Kota Blitar dan minum es pleret

2 hari jalan-jalan di Blitar. Dokumen pribadi Rizky Almira
Nyobain es pleret. Dokumen pribadi Rizky Almira

Inisiatif saya untuk mengajak Dinka dan Lail nyobain es pleret yang merupakan kuliner asli Blitar. Langganan saya namanya es pleret patria Pak Kayat, lapaknya di timur alun-alun dan berada di sebelah selatan pintu masuk Lapas. Sayangnya pas kami tiba di sana, es pleret habis. Mau nggak mau, kami berjalan kaki ke sisi utara alun-alun dan makan di penjaja es pleret lain.

Segelas es pleret isinya ada dawet, pleret, santan, dan juruh (gula jawa yang dicairkan) dengan harga 5ribu IDR. Meski rasanya nggak seenak es pleret Pak Kayat, but it’s okay. Seenggaknya saya sudah memperkenalkan es pleret pada Dinka dan Lail.

Santai sore di Candi Penataran

2 hari jalan-jalan di Blitar. Dokumen pribadi Rizky Almira
Santai sore di Candi Penataran. Dokumen pribadi Rizky Almira

Mumpung masih sore, saya mengajak Dinka dan Lail ke Candi Penataran yang merupakan candi Hindu terbesar di Blitar. Masuk ke kawasan ini, pengunjung cukup mengisi buku tamu dan uang sumbangan sukarela. Ohya, Candi Penataran ditutup pada pukul 17.00 WIB, jadi masih ada waktu sekitar satu jam untuk berjalan-jalan di area candi.

Di sini banyak dijumpai pohon buah maja lho, itu tuh buahnya bulat kayak semangka tapi pahitnya naudzubillah, katanya sih ehe soalnya saya belum pernah incip. Hingga saat ini Candi Penataran masih digunakan untuk sembahyang, jadi jangan heran kalau menemukan sajen di beberapa sudut candi.

Kami menghabiskan waktu cukup lama di atas candi induk untuk menikmati sunset. Sayangnya matahari betah banget sembunyi di balik awan.

Menunggu kereta di Ruang Tuang

2 hari jalan-jalan di Blitar. Dokumen pribadi Rizky Almira
2 hari jalan-jalan di Blitar. Dokumen pribadi Rizky Almira

Kami isi perut dulu di rumah dengan rica-rica entok masakan Ibu yang sangat lezat itu. Biasanya Ibu memasak ini bila ada kerabat yang main ke rumah. Hihi. Setelah kenyang dan leha-leha sambil ngopy foto dari kamera, kami bersiap berangkat lagi. Nggak langsung ke stasiun, kami nongkrong dulu di Ruang Tuang sekalian ambil pesanan sambal pecel Blitar untuk oleh-oleh.

Jarak dari Ruang Tuang ke Stasiun Kota Blitar yang cukup dekat, bikin saya sering ajak tamu buat transit di sini sambil menunggu kedatangan kereta. Lumayan lho di sini bisa pesan kopi atau teh atau wedang uwuh untuk menghangatkan badan plus bisa foto di depan kedai yang bertuliskan Ruang Tuang by Jelajah Blitar.

***

Saatnya untuk pulang dan kembali ke rutinitas. Sungguh liburan singkat ini terasa sangat menyenangkan. Terima kasih banyak Dinka dan Lail, semoga lain waktu kita bisa jumpa dan jalan bareng. Waktu berjalan lebih cepat selama bareng kalian hingga akhirnya kereta Malioboro Ekspress pun tiba –perasaan baru kemarin deh deg-degan nunggu kalian datang eh udah harus ke stasiun lagi antar kalian pulang. Ah, semoga lain waktu bisa berkumpul kembali di tempat lain, mungkin. Bantu amin-in ya!

5 thoughts on “Contekan Itinerari 2 Hari Jalan-Jalan di Blitar”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *