Pantai pasur dalam potret hitam putih. Dokumen pribadi Rizky Almira

It’s Okay Not To Be Okay

Jurnal Self-Healing
Sometimes…

Cerita hidup saya nggak selalu baik-baik saja. Saya juga manusia seperti kamu, pernah merasa bahagia, sedih, kecewa, marah, khawatir, dan takut.

Kadang ada saja yang bikin sedih tuh. Apapun yang nggak sesuai dengan angan-angan. Saya sering lupa kalau semua yang terjadi di semesta ini atas kehendak Tuhan, bukan atas kehendak saya.

Saya masih belum mahir menerima kenyataan secara menyeluruh. Masih ada sesuatu yang mengganjal di benak. Eh, tapi saya mau tanya, kalau melakukan kesalahan dalam hidup itu karena kebodohan sendiri atau memang atas kehendak Tuhan ya? *ditoyor netijen*

Ada sesuatu yang sering terlupakan, kalau manusia boleh saja berencana. Tapi kalau Tuhan memberi kejutan lewat cerita lain, manusia bisa apa?

Seorang teman bilang pada saya bahwa hidup saya kurang bersyukur. Bisa saja benar, bisa saja kurang tepat. Sependapat karena saya punya definisi kebahagiaan sendiri akibat terlalu sibuk memandang hidup orang lain yang seringnya gemerlap dan menyilaukan mata. Sawang sinawang.

Saya lupa bahwa tiap manusia punya porsi masing-masing. Tiap manusia punya kelebihan dan kekurangan. Bila ditimbang mungkin tiap-tiap manusia punya porsi yang sama namun dengan menu yang berbeda.

Kurang sependapat bahwa saya ini kurang bersyukur karena bisa saja ada sesuatu di masa lalu yang belum terselesaikan. Misalnya, kenangan yang pahit dan sangat melekat pada ingatan.

Akhir-akhir ini banyak sekali pikiran yang bikin sesak di kepala saya. Bangun tidur rasanya nggak enak, bukan hanya fisik yang lelah tapi pikiran pun.

Pertama, soal tekanan sosial di lingkungan saya. Soal pernikahan. Teman kantor akan menikah bulan depan dan ada beberapa teman lain. Padahal usia mereka jauh jauh di bawah saya.

Ada perasaan sedih yang nyempil, eh, bukan karena saya suka sama dia ya. Sama sekali tidak ada perasaan itu. Tapi soal kekhawatiran, “kapan giliran saya?” “Kok kehidupan asmara saya gini-gini saja ya?”.

Ada kalanya saya ingin bodo amat. Pasrah aja pada Tuhan. Tapi kalau saya nggak berusaha kok sama saja bohong. Kalau berusaha sekeras mungkin kok ya ngoyo banget. Justru rawan mengada-ada sesuatu yang tidak ada. Eh, lho kok jadi serba salah. Yang betul adalah pasrah namun tetap berusaha semampunya. Lho, eh, sudah tahu solusinya tapi kok masih bingung? Hahaha.

Kedua, soal pertemanan. Tak semua teman layak jadi sahabat. Tapi sahabat pastilah seorang teman yang layak diandalkan. Saya punya problem untuk percaya dengan orang. Takut cuma jadi “alat” orang lain. Takut dikhianati. Takut cuma di bodohi.

Misalnya, teman yang datang ketika butuh doang, ketika ia sedih dan galau karena putus cinta. Teman yang cuma numpang panjat sosial. Teman yang cuma menjadikan saya alat untuk membantu mewujudkan kepentingannya semata. Teman yang mengkhianati janjinya sendiri. Astaghfirullah, suudzon sekali hidup saya ini.

“Dalam hidup, kita nggak bisa menghindari orang-orang seperti itu. Sampai kapanpun…” Tanggap Ibu.

Ibu paling bisa menenangkan, meski seringnya menjengkelkan. Soal pertemanan seperti itu kadang bikin saya berpikir, apa jangan-jangan selama ini saya yang jadi toxic ya? Barangkali benar adanya, karena saya ini juga manusia biasa yang tetap punya kekurangan.

Saya lemah dalam melupakan. Bila ada seseorang yang pernah melukai hati saya, pasti saya susah untuk menghapusnya dalam memori.

Secara lahir saya bilang sudah memaafkan dia, namun batin masih bertahap untuk memaafkan. Buruknya lagi, saya sering berharap orang tersebut segera mendapatkan karma atau balasan setimpal. Pendendam ya ini? Duh, penyakit hati. Help…

Saya kadang nggak bisa menampik rasa penuh kecurigaan saya pada seseorang. Trust issues itu sangat nggak baik. Tapi saya masih memeliharanya dalam diri. Saat ini saya sedang menguranginya secara bertahap.

Saya angkuh dan congkak, merasa tak terkalahkan. Sungguh rasa percaya diri yang terlalu berlebihan. Ego saya tinggi namun tidak pada tempatnya. Akhirnya saya meremehkan sesuatu, “ah, buat apa belajar lagi, saya udah bisa gini kok, gampang lah nanti”. Lalu suatu hari itu menjadi bumerang pada hidup saya.

Tak bisa di pungkiri, ada kalanya narsistik. Tanda seseorang itu rapuh dan tak percaya diri karena masih membutuhkan validasi atau pengakuan dari orang lain. Saya juga sedang mengurangi ini secara bertahap.

Suatu waktu saya merasa lelah dengan semuanya. Keluarga, lingkungan pertemanan, lingkungan kerja, dan karir. Sometimes, saya memberi ruang sendiri untuk bisa melakukan apapun yang saya gemari sambil instropeksi diri.

Instropeksi diri sambil menulis apapun di jurnal digital saya, seperti tulisan ini. Sambil bersepeda. Sambil memasak suatu penganan. Tiba-tiba tercetus, oh saya ini rupanya gengsian untuk menyapa duluan, padahal kangennya setengah mati.

Akhirnya, saya cuma bisa kepo akun media sosialnya untuk tahu perkembangan hidupnya. Oh, ternyata saya ini gengsian untuk mengucap maaf duluan dengan catatan saya tidak merasa bersalah atas perseteruan itu dan ingin segera berdamai. Melakukan sesuatu yang kita sukai ternyata membuat saya jadi lebih mengenal diri sendiri.

“Kemenangan hanya milik lima menit pertama. Sesudahnya, hanya ada selapis hambar dan kembalinya rasa gentar.” Kata Mas Puthut Ea.

Saya sangat setuju. Terlalu fokus pada tujuan, bila berhasil tercapai maka rasa bahagia akan terasa pada lima menit pertama atau hanya sekejap saja, sisanya adalah rasa hambar atau hampa.

Misalnya, saya pengin banget deh lihat orang yang punya kamera, kayaknya enak banget punya kamera. Masukin wishlist ah. Setelah sekian lama, akhirnya punya kamera juga. Rasa senang akan punya kamerapun hanya terasa sebentar. Setelahnya ya biasa saja.

Menurut saya, hal itu ada kaitannya dengan puasa. Puasa sebenarnya melatih untuk tidak gampang lapar mata. Mengendalikan hawa nafsu, termasuk nafsu duniawi. Ingin buka puasa pakai ini itu banyak sekali. Pas buka puasa seringnya cuma makan dikit dan perut tak kuasa untuk dimasuki semua makanan yang ada di meja makan.

Manusia itu ternyata penuh rasa penasaran ya. Termasuk saya. Penasaran akan hasrat kebendaan. Penasaran akan isi hati orang lain. Penasaran akan masa depannya sendiri. Penasaran akan perasaan orang lain.

Saya mohon maaf bila tulisan ini ada yang menyinggung perasaan kamu. Sungguh, saya nggak bermaksud demikian. Saya sedang merasa tidak baik-baik saja makanya saya memutuskan untuk menulis ini.

Saya hanya ingin mengeluarkan apa yang saya pikirkan. Apapun yang saya rasakan. Sungguh, saya mohon maaf sekali.

Hai kamu, apa kabar? Semoga harimu menyenangkan. Bila harimu kurang menyenangkan, semoga kamu bisa melewatinya dengan baik. Ingat, segala sesuatu yang baik atau buruk tak pernah bisa dihindari. Semua akan terjadi secara bergantian. 🙂

2 thoughts on “It’s Okay Not To Be Okay”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *