Memandang Ranu Gumbolo dari atas, Tulungagung

Ranu Gumbolo, Alternatif Tempat Menepi di Tulungagung

Cerita Destinasi Perjalanan

“Kalau ke Tulungagung, enaknya main kemana ya?” “Tulungagung ada apa aja ya selain kedai kopi?”

Selama ini saya clueless tentang Tulungagung. Saya memang sering ke Tulungagung, tapi ke daerah pinggiran yang berbatasan dengan Blitar. Saya jarang main ke pusat kotanya. Ketika suami ajak saya untuk jalan-jalan di sekitar Alun-Alun Tulungagung, ternyata banyak pilihan kuliner dan tempat ngopi ya.

Saya pun baru tau kalau Tulungagung selain terkenal dengan budaya ngopinya ternyata juga punya wisata alam selain pantai. Tujuan saya kali ini berada di ketinggian 182 Mdpl, medan jalannya masih aman untuk kendaraan roda dua maupun roda empat. Namanya mirip dengan danau yang ada di kaki Gunung Semeru. Ada yang bisa menebaknya? 😀

Hahaha. Iya, sudah ketebak dari judul cerita ini ya. Betul, namanya adalah Ranu Gumbolo. Lokasinya di Desa Wonorejo, Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung. Bedanya dengan Ranu Kumbolo, Ranu Gumbolo ini adalah salah satu sisi dari waduk Wonorejo yang masih berfungsi sebagai PLTA dan irigasi hingga saat ini. Jarak tempuhnya kurang lebih 35-40 menit dari pusat kota Tulungagung. Bisa jadi salah satu alternatif untuk menepi ketika sedang berada di Tulungagung.

Saya piknik tipis-tipis ke Ranu Gumbolo sekitar akhir bulan Juni tahun lalu. Tapi baru bisa ngelarin nulis ceritanya sekarang. Hahaha. Mumpung adik-adik saya lagi ngumpul, ya udah deh saya ajak jalan-jalan sekalian.

Ranu Gumbolo sudah ada yang mengelola, jadi untuk masuk ke area wisata dikenakan biaya tiket tiap orangnya . Fasilitas di sana cukup lengkap, ada warung, toilet, dan sebagian wilayah disediakan tempat duduk. Kami bawa perbekalan seperti alat seduh teh dan kopi, makanan ringan, dan hammock. Jarak antara pohon pinus satu dengan yang lain cukup teratur sehingga memungkinkan untuk dipasang hammock. Lumayan bisa untuk santai sejenak, baca buku, atau bahkan tidur.

Ranu Gumbolo Tulungagung
Bersantai di Ranu Gumbolo, Tulungagung
Naik hammock di Ranu Gumbolo
Pengalaman pertama saya naik hammock, ternyata nggak semenakutkan itu ya. 😀

Kalau mau effort untuk jalan kaki menyusuri jalan ke tempat yang lebih tinggi, kita bisa dapat pemandangan waduk Wonorejo. Tidak jauh dari titik memasang hammock, ada spot yang dulunya bekas wahana flying fox namun sepertinya sudah tidak dipakai dan kondisinya kurang terawat. Mungkin karena adanya pandemi yang menyerang sejak tahun 2020 ya jadi sektor wisata di mana-mana vakum.

Memandang Ranu Gumbolo dari atas, Tulungagung
Memandang Ranu Gumbolo dari atas, Tulungagung

“Enak kali ya camping di sini.” kata Ghani, adik laki-laki saya.

Saya juga membayangkan hal serupa. Ranu Gumbolo bisa jadi alternatif tujuan camping yang nggak perlu banyak upaya untuk hiking dulu. Tapi saya nggak menyarankan untuk kesini pada akhir pekan, bisa dipastikan kondisinya ramai. Jujur, sekarang malas banget kalau pergi ke suatu tempat dan kondisinya ramai. Bukan hanya soal kesehatan dan risiko penularan virus covid-19, tapi memang dasarnya saya nggak begitu suka keramaian. Hehehe.

Kalau kamu ingin kesana, saya menyarankan pagi banget atau sore gitu di mana suasana lebih sepi dan panasnya matahari nggak terlalu menyengat. Kalau bisa bawa makanan atau bekal lain dari rumah, lebih higienis, dan jangan lupa bawa lagi sampahmu untuk dipilah di rumah ya.

Selamat menepi dan mencari inspirasi!

Leave a Reply

Your email address will not be published.